MALAM GILA DI RANJANG MERTUA
Kulitnya yang blasteran tampak berkilau karena keringat yang membanjiri kami.
Aku masih enggan beranjak, wajahku masih betah terkubur di dadanya yang harum. Tanganku meremas kecil gundukan itu, menyesap puncaknya lagi dengan lembut, dan sesekali jariku bermain nakal menyentuh miliknya yang masih berdenyut sensitif.
"Sudah, Ram... Ibu lelah," ucapnya akhirnya dengan suara yang sangat parau, nyaris habis karena menahan desahan tadi.