Oleh-oleh dari Mertua
tulisnya.
Aku menengadah, menahan hangat di sudut mata yang hendak melesak. Bayangan kebersamaan selama seminggu terakhir menyeruak. Dan tiba-tiba aku rindu semuanya.
Aku rindu ketika setiap malam, dalam setengah tidur merasakan satu tangan kekar mengusap pucuk kepala dengan lembut.
Aku rindu saat membuka mata, menyaksikan senyum tipis dan tatap teduhnya terarah padaku, lalu lembut suaranya terdengar, “Bangun, subuh.”