Ada sesuatu yang magis tentang 'Sholawat Gandrung Nabi'—seperti aroma kopi pagi yang hangat atau gemericik air di kolam kecil. Liriknya mengisahkan kerinduan mendalam pada Nabi Muhammad, layaknya seorang pecinta yang merindukan kekasihnya. Kata 'gandrung' sendiri berarti keterpautan hati yang tak terbendung, dan di sini diarahkan pada kecintaan spiritual. Setiap baitnya seperti lukisan kaligrafi yang hidup, menggambarkan kerinduan umat untuk dekat dengan teladan terbaiknya.
Dalam terjemahan kasar, misalnya, 'gandrung Nabi' bisa dimaknai sebagai 'rindu Nabi yang membara'. Ini bukan sekadar pujian biasa, tapi seruan jiwa yang ingin menyatu dengan nilai-nilai kenabian. Aku sering mendengarnya sambil merenung—entah mengapa rasanya seperti mendengar suara dari zaman yang jauh, membisikkan pesan tentang cinta yang tak lekang waktu.