Love, Lies, and The Price of Desire
Lila berdiri di pinggir lapangan, menyaksikan dari tribun saat nama Raynar perlahan-lahan memudar dari lapangan itu, dari percakapan, dari dunia yang telah ia bangun di sekelilingnya.
Tapi cinta-sekali terluka, takkan mudah mati. Rasa itu tetap hidup, bahkan tak membusuk. Ia hanya menunggu, dan menunggu.
***
Tahun-tahun panjang telah berlalu sejak masa kuliah itu, dan hari ini pertaruhan Lila lebih tinggi dari sebelumnya. Duduk di studio bersama ketiga rekan satu timnya, jari-jari Lila mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Udara di studio itu terasa sangat tegang.
Hot Chapters