REUNI
Seingatku nomor itu yang pernah Tama sebut.
Aku mengambil ponsel dari kantong kardigan. Lalu mencari nomor ponsel Tama. Sebelah tanganku menekan bel pintu, sebelah tangan lainnya menggenggam ponsel, mencoba menghubungi Tama.
"Halo," suara berat Rama terdengar serak. Dia pasti sudah tidur.
"Halo, Tama. Sori aku ganggu. Tapi, ini agak penting," sahutku ragu. Mataku memindai suasana koridor lantai 27 yang sepi.
Hot Chapters