Aku, istri kedua
“Randi ini, pintar sekali memasak, Dek! Ia memiliki restoran besar di kota ini, kamu bahkan pernah mampir ke restonya. Masih ingatkan dengan tenderloin steak yang Dek Aisyah bawakan dulu. Itu salah satu cabang yang di milikinya.”
Aku mengangguk, andai aku tahu itu Resto yang di miliki lelaki tak bermoral itu. Lebih baik aku beli makan di warteg saja. Kalau perlu pun di angkringan nasi kucing, bukan di tempat makan miliknya. Lagian apa hebatnya, ia di sana kan sebagai pemilik bukan chef-nya. Masakannya pun berbeda genre, menu luar negri ala steak - steak gitu. Sedangkan yang kita buat makanan ndeso dengan perpaduan sayur dan bumbu kelapa.
“Mbak Zahra berlebihan,” jawab Randi dengan senyuman k