Wanita yang dia lepaskan
Sweter itu hanya akan menyelimutinya, seperti yang akan dilakukan ayahnya, dengan isyarat yang sunyi dan lembut.
Ia membenamkan wajahnya di kerah kasar itu, menutup mata, dan menarik napas dalam-dalam. Bau tembakau telah memudar seiring berjalannya waktu, tetapi masih ada, samar, hampir tak teraba. Ia teringat ayahnya, tangannya yang keriput, senyumnya yang jarang, suaranya yang berat saat membacakan artikel koran dengan lantang. Ia ingat hari ketika ayahnya memberinya sweter ini, hari Minggu yang hujan, di pasar loak tempat mereka berlindung secara kebetulan. "Ini, Nak," katanya, "ini selembut bulu domba. Kau akan lihat, kau tak akan pernah ingin melepasnya." Ia benar. Ia memang tidak perna
인기 회차