Pertemuan pertama Malik dan Elsa terjadi di sebuah kafe kecil di pinggiran kota yang selalu ramai di akhir pekan. Aku ingat betul suasana saat itu, karena kebetulan aku juga sedang nongkrong di sana. Kafe itu bernama 'Aroma Biji', terkenal dengan kopi tubruknya yang khas. Malik sedang sibuk membaca novel 'Laut Bercerita' sambil sesekali mencorat-coret di buku sketsanya, sedangkan Elsa datang dengan teman-temannya yang berisik membahas proyek seni mereka. Entah bagaimana ceritanya, gelas kopi Elsa tumpah ke buku Malik, dan dari situlah percakapan pertama mereka dimulai.
Yang membuat momen itu spesial adalah bagaimana kafe itu sendiri menjadi saksi bisu. Dindingnya penuh dengan coretan pengunjung dan lukisan lokal, menciptakan atmosfer yang sempurna untuk pertemuan tak terduga. Aku sering kembali ke tempat itu dan selalu tersenyum ingat kejadian itu, karena sekarang di sudut yang sama ada foto Malik dan Elsa dipajang dengan bingkai kecil bertuliskan 'Di silahkan kami mulai'.