Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Miss Montok

Miss Montok

“Ehm ..., ada beberapa bundel dokumen sepertinya nggak ada, Mat.” Dahi Mamat berkerut. “Aku nggak masuk ke sana, Bu. Suwer deh, nggak bohong!” Dia menunjukkan dua jarinya tanda bersumpah. “Iya, Mat, aku yakin kamu nggak bohong. Kalau ada OB lain yang lihat, tolong kasih tahu aku, ya?” Mamat mengangguk. “Siap, Bu!”
1015.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 434 kali sebagai mat tumbuk
Baca
+Pustaka
Buruk Rupa

Buruk Rupa

ancam Argan. "Nih berdua ngapa yak? Perasaan tadi disini sedang dalam permasalahan hukuman, kok malah kejatah-menjatah sih? Dikira apaan coba bininya? Astaga...! Tobat...! Neraka makin jauh!" batin Allen bingung. "Eh... eh... mulutnya! Ntar Bapak kasih cabe rawit mau?" "Nah! Kebetulan Pak. Saya suka yang pedas-pedas. Hot-hot gimana gitu yahkan Pak?" ucap Argan dengan cengirannya.
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai mat tumbuk
Baca
+Pustaka
Pendekar Tombak Matahari

Pendekar Tombak Matahari

Tanpa menunggu aba-aba, ia menelan sebutir pil berwarna ungu tua, lalu melemparkan botol itu ke arah Surya Yudha. “Minum itu, Den! Pil Mustika Empedu Katak. Rasanya emang kayak pipis kuda dicampur sama bau kecoa, tapi itu satu-satunya cara supaya paru-paru kita nggak bolong-bolong kena hawa merah ini,” gerutu Gendon sambil bergidik hebat, menahan rasa mual yang menyodok pangkal tenggorokannya.
928.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 565 kali sebagai mat tumbuk
Tampilkan Ulasan (25)
Baca
+Pustaka
Kebo Rawis
Ah, akhirnya menemukan salah satu mutiara terpendam GoodNovel yang bisa jadi alasan untuk mengisi ulang koin. Semoga sang penulis selalu sehat agar cerita ini lekas diselesaikan dan tidak membuat penasaran.
Rana Semitha
Regulasi GN yang baru membuat harga satu babnya menjadi 14 koin. Hal itu tidak disampaikan kepada para penulis sehingga banyak penulis yang tidak menyadari. Untuk para pembaca, bisa membaca mulai bab 65, di bab tersebut saya menulis cukup banyak kata hingga bab-bab berikutnya. Terima Kasih
Baca Semua Ulasan
Air Mata Maduku

Air Mata Maduku

POV Dewa Kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Tak lupa aku mampir ke sebuah toko kue Abanda di sebuah mall. Zahra sangat menyukai brownies kukus dari toko kue itu. Dia pasti senang aku bawakan makanan kesukaannya. Hatinya pasti akan tersentuh. Ah, rasanya sudah tidak sabar ingin kembali memiliki wanita cantik itu. Betapa bodohnya aku telah mengabaikan sebuah permata demi seonggok sampah.
9.6291.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 8.5K kali sebagai mat tumbuk
Baca
+Pustaka
RACUN UNTUK MADUKU

RACUN UNTUK MADUKU

Agar Maura sadar posisinya di rumah ini yang semula madu berubah menjadi babu. "Oh … ini!" Tatapan mertuaku itu jelas bisa aku tebak, jijik. Maura yang mendengar kata pembantu matanya langsung melotot tidak percaya. Wajahnya keluar keringat dingin. Dan tatapannya menusuk ke arahku. Ya salam. Membuatnya begitu kelimpungan membuatku ingin rasanya tertawa terbahak-bahak. "Duduk dulu, Bu."
18.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 679 kali sebagai mat tumbuk
Baca
+Pustaka
Atas Nama Pohon Suci

Atas Nama Pohon Suci

tiba-tiba Matt membuka mulutnya, lalu menghembuskan lingkaran asap dari bibirnya yang tebal. "Hah?" aku terkejut. “Tin?” “Onok uwit tin opo uwit ara sing tukul nang kene,” Mr. P menjawab pertanyaanku sambil menunjuk ke arah selebaran. "Biasane, wong Indonesua nyebut uwit beringin.” (Ada pohon tin atau pohon ara yang tumbuh di sini. Biasanya, orang Indonesia menyebutnya sebagai pohon beringin).
105.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 202 kali sebagai mat tumbuk
Baca
+Pustaka
My Brilliant Doctor

My Brilliant Doctor

Tara tersenyum lembut saat pria itu memperlakukan dirinya dengan hangat, ia melirik pada tangan kiri Vin yang setia merengkuh pinggang dan sesekali mengelusnya dengan ibu jari. Ia tak menyangka pria sedingin Vin mampu menebarkan keindahan dalam dadanya saat fikiran itu justru terfokus pada map burgundy yang ia genggam. "Aku masih tak mengerti sistem kerja Unmaned Turret atau senjata khusus tank dengan kaliber 30 mm yang kau rencanakan." Matt kembali meneguk koktail tersebut hingga tandas.
1025.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 567 kali sebagai mat tumbuk
Baca
+Pustaka
Senja di Matamu

Senja di Matamu

Uri berlari masuk, pucat dan ketakutan. "Chaz, Nina! Gawat! Tolong!" Chaz mengerutkan kening. "Ada apa? Kenapa panik sekali?" Uri berkata dengan panik, "Lihat videonya di internet!" Semua orang mengambil ponsel mereka. Mereka terkejut melihat lima pencarian teratas yang sedang tren semuanya tentang Tania, Nina, dan Chaz. Namun, mereka bukan memarahi Tania, malah memarahi Nina!
23.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 813 kali sebagai mat tumbuk
Baca
+Pustaka
Si Bibir Merah - The Red Lips

Si Bibir Merah - The Red Lips

Matthew meraba wajahnya tanpa ekspresi. Matthew lalu memutuskan untuk mandi. Ia menutupi kejantanannya dengan lilitan handuk di pinggul. Ia merapikan penampilannya yang seperti lelaki geng berandalan. Matthew mencukur jambangnya. Ia juga mencukur rambutnya yang berantakan seperti preman. Matthew membuat potongan tentara agar terlihat rapi dan tegas.
102.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 72 kali sebagai mat tumbuk
Baca
+Pustaka
Pendekar Sinting dari Laut Selatan

Pendekar Sinting dari Laut Selatan

Mata Bara segera nenyambuti dengan pukulan pula. Benturan terjadi. Keduanya sama terdorong mundur, tapi tak urung ujung tombak masih sempat menggores lengan Si Mata Bara. Merasa sedikit lebih unggul. Tumenggung kembali melompat maju sambil hantamkan tombak ke wajah dan dada lawan.
99.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 183 kali sebagai mat tumbuk
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status