Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
MENYESAL MENDUAKANMU

MENYESAL MENDUAKANMU

Mas . Samar terdengar bisikan seseorang menyebut namaku. Mungkinkah itu Karin? Apa dia sudah kembali? Semakin lama suara itu terdengar semakin jelas seiring dengan aroma mint yang menyeruak di indera penciuman. Mataku terbuka sempurna dan mendapati Papa tengah duduk di tepi ranjang. Ah, ternyata itu suara Papa. "Syukurlah kamu sudah sadar," ucapnya seraya menutup kembali minyak angin di tangannya.
9.8240.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 6.0K kali sebagai menyibak
Tampilkan Ulasan (32)
Baca
+Pustaka
Mini Adae Jangkang
Terlalu lembek dan tidak tegas jadi seorang lelaki, masa dari hal kecil selalu di atur oleh mama nya dan tidak ada keadilan dan ketegasan jadi suami untuk kedua istrinya, pantas lah penyesalan untuk mu Malik
Uli arta
Author bagus banget ceritanya.air mata ku trus mengalir,Thor pengen ada extra part smpai Kamal merid.klo bsa bikin cerita baru utk ayesa dan Faisal. ini novel y harus di baca ya guys,nyesel klo g baca.trimakasih author Airi Mitsukuni,telah berhasil membuat aku menangis.
Baca Semua Ulasan
Momong Tuan CEO Manja

Momong Tuan CEO Manja

Hidungnya kembang-kempis nahan jawaban. “Kak Biba enggak nangis karena ditabok kok, tapi karena habis makan mi Samyang. Tuh lihat.” Biba nunjuk mangkuk plastik kosong di sisinya. Kelihatan banget bekas makanan pedas warna merah yang kalau dicium, bau pedasnya masih tersisa di udara.
106.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 235 kali sebagai menyibak
Baca
+Pustaka
BENIH KAKAK IPAR

BENIH KAKAK IPAR

Mak Munah meminum air putih yang sempat diambilnya sampai tandas. “Memang makhluk itu apa Mak? Apa tujuannya mengincar bayi-bayi yang tak berdosa?” tanya Nayla semakin penasaran. Mak Munah mengambil beberapa lembar daun sirih, kemudian mulai menata gambir, kapur sirih serta beberapa pelengkap lainnya di atas daun yang memiliki wangi khas itu. Setelah menggulung, wanita tua dengan giginya yang tak putih lagi mulai mengunyah racikan sirih tersebut di dalam mulutnya.
9.614.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 462 kali sebagai menyibak
Baca
+Pustaka
Digerebek Saat Lagi Mendesah

Digerebek Saat Lagi Mendesah

Plin-plan. "Heh, mereka yang gerebek itu, masih punya hati nurani. Nggak asal gerebek aja! Yakin dan pepaya, gua dan burung, pasti sudah terbuka semua! Makanya pada ngeringkuk di dalam selimut!"
1042.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.4K kali sebagai menyibak
Baca
+Pustaka
BANGKIT

BANGKIT

bisik Rabithah "Hei kelinci, gue denger apa yang Lo bisikan ke Aini." Rabithah tidak memperdulikan Reza dan Rama, ia menarik tangan Aini menuju kantin. Ketika mereka menuju kantin, Aini di hadang oleh junior mereka yang memberikan ucapan serta hadiah ulangtahun untuknya. "Terimakasih," ucap Aini kepada mereka semua. Mereka berdua melanjutkan tujuan mereka yaitu kantin. Aini memesan nasi goreng karena hari ini ia ulang tahun, sedangkan Rabithah memesan bakso kosong.
101.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 40 kali sebagai menyibak
Baca
+Pustaka
Sang Penabur Benih

Sang Penabur Benih

Perutnya tetiba berbunyi ingin diberi asupan. Sesampainya di dapur, sarapan sederhana telah tersaji lengkap dengan kopi selamat pagi. Roti bakar dua lapis dengan lelehan alpukat di atasnya, telur orak arik dan tumis jamur. Sarapan yang luar biasa menggugah selera. Aku berangkat pagi sekali karena rekanku mengajak ke Coff Harbour untuk mengambil bahan lebih awal. Selamat sarapan semoga kamu menyukainya. -Valerie-
7.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 282 kali sebagai menyibak
Baca
+Pustaka
Takkan Kubiarkan Kau Merebut Suamiku

Takkan Kubiarkan Kau Merebut Suamiku

Ryan menyuruh teman-temanku ini membubarkan diri. "Iya, ayo bubar, bubar!!" Tari dan Sinta meninggalkanku dan kembali ke mejanya masing-masing. "Kalian yah, giliran aku kasih penjelasan malah pada pergi!!" teriakku kesal dengan sikap mereka. ***** Pagi harinya ... Aku sudah siap dengan pakaian kerjaku dan menunggu bos mesumku itu. "Kok belum berangkat, Fir?" tanya Mamaku.
1023.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 644 kali sebagai menyibak
Baca
+Pustaka
JERITAN HATI SANG KUNTILANAK

JERITAN HATI SANG KUNTILANAK

"Terus emak mesti manggil apa, tho? Upik?" Fiks! Aku serasa dikerjain. Ya udah, deh aku ngikut aja. Aku dibawa ke dapur, Guys. Si Emak meniup-niup kayu bakar. "Masak apa, Mak?" Aku berdiri di belakangnya. Duh, kasihan sekali. Melihatnya yang meniup-niup api dengan bambu kering. "Ini, Jang. Di sini cuma ada ubi rebus. Apa kamu mau makan ubi bakar?"
9.93.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 66 kali sebagai menyibak
Baca
+Pustaka
KINASIH

KINASIH

Tanpa peduli mukena yang basah, mata yang sembab dan isak tangis yang tetap tertahan. Hingga tibalah azan subuh berkumandang. Kokok ayam jantan terdengar bersahutan, deru kendaraan pengangkut sayur dan para pedagang pasar, mulai terdengar. Setelah menjalani kewajiban dua rakaat, Asih melipat dan menyimpan kembali alat salatnya. Dia bangkit, membuka jendela, merasakan hembusan angin segar menerpa wajah. Membiarkan helaian anak rambut menari di kening dan sesekali membelai pipi dan kedua mata yang sembab.
1.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 32 kali sebagai menyibak
Baca
+Pustaka
Dia, Yang Mudah Dihibur

Dia, Yang Mudah Dihibur

Pagi-pagi sekali, aku terbangun gara-gara mendengar suara dari dapur. Brian dengan kemeja yang digulung sampai siku, lengan kekar dan berotot itu sedang sibuk membolak-balik wajan, menghangatkan kembali semua masakan semalam. “Hari ini aku temani kamu merayakan hari Idul Adha yang terlewat kemarin.” Dia menjepit sepotong daging asam manis dengan spatula dan mencicipinya. “Lumayan enak juga.”
8.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 260 kali sebagai menyibak
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status