Ada sesuatu yang magis dari cara Almira Bastari merangkai cerita, dan novel terbarunya tak terkecuali. Berkisah tentang seorang seniman jalanan bernama Kara yang secara tak sengaja menemukan buku kuno berisi ramalan tentang kehancuran kota. Uniknya, ramalan itu mulai terjadi persis seperti yang tertulis. Di tengah upayanya memecahkan misteri ini, Kara bertemu dengan Arka, pemuda eksentrik yang mengaku berasal dari 'dunia lain'. Plotnya berbelit bak puzzle, dengan sentuhan realisme magis yang khas Almira.
Yang bikin gregetan, Almira bermain-main dengan konsewensi waktu dan keputusan kecil yang mengubah segalanya. Adegan ketika Kara menyadari coretan di buku catatannya berubah sendiri itu bikin merinding! Novel ini juga sarat metafora tentang seni sebagai alat perlawanan—sesuatu yang jarang dieksplorasi di sastra pop Indonesia. Endingnya? Nggak biasa. Nggak semua pertanyaan dijawab, tapi justru itu yang bikin nggak bisa move on.