Salah Pengantin
"Dia pinter, dia sopan, dia bisa main piano, dia adalah pangeran impian Papa. Sedangkan gue? Gue cuma anak yang bikin malu. Gue dibilang nggak punya masa depan cuma karena gue nggak suka pake kemeja rapi dan lebih milih main di bengkel daripada les matematika. Gue sering dipukul Papa cuma karena gue nggak bisa dapet nilai yang sama kayak Nathan. Sampai akhirnya gue sadar... gue nggak akan pernah bisa jadi Nathan. Jadi, gue milih buat hancur sekalian."
Jo mematikan rokoknya di asbak dengan tekanan yang sangat kuat, seolah ia sedang mencoba mematikan kenangan pahit di kepalanya. "Gue pergi dari rumah umur tujuh belas. Gue milih hidup di jalanan, berantem, luka-luka, tidur di emperan toko. Kena
Sikat na Kabanata