Rimba Memburu Senala
Suatu malam, saat rembulan mengambang rendah dan kabut turun seperti tirai sutra, Rimba memberanikan diri menghampiri Senala yang duduk di batu besar, memandang langit tak berbintang.
“Aku masih ingin tahu,” Rimba memulai. “Apa rasanya …, saat tubuhmu menjadi tempat ilmu seperti itu?”
Senala menjawab tanpa menoleh. “Rasanya seperti hidup dengan dua jiwa: yang satu anak dari perbukitan, yang satu lagi berasal dari zaman di mana dunia belum terbagi antara hitam dan putih.”
Keheningan menyambung. Rimba menelan ludah, mencoba memilih kata. “Kalau satu jiwamu milik Bukit Berkabut ..., lalu satu lagi milik siapa?”
Hot Chapters