Dari Budak Menjadi Bencana
"Aku... kami... adalah umpan."
Wajah Tua Bangka berkerut, tapi bukan karena kejutan. "Aku pernah mendengar desas-desusnya," aku mengaku. "Sebuah legenda tua tentang Makhluk Bawah Tanah yang tidur di perut tambang. Clan selalu menyangkalnya, menyebutnya sebagai takhayul budak." Dia mendekat, suaranya turun hingga hampir tak terdengar. "Jika Yan benar-benar mencoba membangkitkannya... maka kita semua—budak, pengawas, semuanya—hanya makanan."
Di dalam diriku, ribuan suara bergemuruh, setuju. Sebuah ketakutan kolektif yang begitu besar hingga membuat "Bibit"-ku bergetar.