Memar Termanis
Dia menggigit bibirnya, mengusap perutnya pelan, lalu berkata dengan suara lirih, “Terdengar jahat, kan? Tapi hidup ini harus realistis, Andreas. Aku tahu, banyak perempuan yang ingin bersama dia. Aku juga tahu… dia nggak pernah benar-benar tertarik pada siapa pun. Itu cukup buatku lega. Dan itu juga… yang membuatku nekat.”
Andreas menggelengkan kepalanya pelan, hampir tak percaya. Dia menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada yang lebih rendah, “Cece, ini bukan cinta. Ini bukan soal kamu mencintai dia atau dia mencintai kamu. Ini obsesi.”
Hot Chapters