Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Menanti Kabut dan Awan Berpaling

Menanti Kabut dan Awan Berpaling

"Aku sudah bilang, kamu harus pergi!" Setelah hawa panas di tubuhnya berangsur reda, Ardian baru menumpu tanganku dan memeriksanya dengan teliti. "Nggak ada yang sakit, ‘kan?" Dia tampak persis seperti seorang anak kecil yang telah berbuat salah. Sisi matanya memerah, matanya mencerminkan campuran rasa malu, rasa bersalah, serta kesedihan yang tidak dapat dibendung. "Lidia ...." Suaranya terdengar parau. "Supnya masih hangat, makan sedikit saja, ya?"
1.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 34 kali sebagai orang lidi sad
Baca
+Pustaka
Cinta Itu Tidak Datang Tiba-Tiba

Cinta Itu Tidak Datang Tiba-Tiba

Balas Adriana. “Sembarangan ya, aku cuma punya tiga. Itu juga beda ukuran.” pesan Lily. Griselle dan Adriana tertawa membaca pesan Lily. "Nggak seenak aslinya tapi paling nggak itu lebih aman daripada pakai kucing sembarangan. Juga nggak makan hati."pesan Lily. “Nggak enak tapi punya tiga, lain di mulut lain di hati.” pesan Adriana.
706 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 17 kali sebagai orang lidi sad
Baca
+Pustaka
Terjebak Gairah Terlarang

Terjebak Gairah Terlarang

Tanpa mereka sadari, Lidya sebenarnya baru saja pulang setelah minum kopi bersama temannya di sebuah kafe malam di pusat kota. Malam itu, Lidya, yang berusia 44 tahun namun masih bersemangat, telah bercerita panjang lebar tentang obsesinya terhadap Leon—tubuhnya yang atletis, wajahnya yang tampan, dan bagaimana ia sudah terangsang sejak sarapan pagi itu. "Dia sangat tampan, sayang... Aku ingin merasakan kejantanannya. Sonya pasti nggak keberatan, kan?" kata Lidya sambil tertawa, menyesap koktail yang membuatnya sedikit mabuk.
36.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.3K kali sebagai orang lidi sad
Baca
+Pustaka
Istri Kecil Tuan CEO

Istri Kecil Tuan CEO

Matahari masih malu-malu beranjak turun, menyinari sudut jendela besar tempat Lidya duduk menunggu. “Kak Lily?” Gadis berambut hitam panjang itu datang dengan langkah ringan, senyum lebarnya langsung menghangatkan suasana. Sekilas, wajahnya serupa dengan wajah imut milik Eliza. Dan Lidya benci mengakuinya, bahwa ia kalah muda dari istri Nicholas itu. “Maaf, nunggu lama ya, Kak?” “Nggak sama sekali. Aku justru senang kamu sempatin datang. Terima kasih, ya.” Lidya berdiri dan menyambutnya dengan hangat.
103.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 96 kali sebagai orang lidi sad
Baca
+Pustaka
Terjerat Cinta Ayah Mertua

Terjerat Cinta Ayah Mertua

Tangannya menekan pangkal hidungnya, menahan sakit kepala yang mulai berdenyut. Matanya yang dingin kemudian membalas tatapan orang-orang di sekitar yang masih penasaran. Wajah dan sorot matanya tiba-tiba terlihat cukup menyeramkan. Sontak, mereka yang menatap segera mengalihkan pandangan. Berpura-pura sibuk dengan aktivitas mereka sendiri. "Saya nggak nyangka kamu bisa berkata kasar ke saya, Glen," celetuk Lidia kembali berbicara, mencoba mengambil kendali.
1029.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 644 kali sebagai orang lidi sad
Baca
+Pustaka
Pembalasan Dewa Perang

Pembalasan Dewa Perang

Kali ini pun, bukan tak mungkin, laki-laki tua itu akan membela Rio dan memudahkan jalan bagi cucu kesayangannya itu. "Sudah! Jangan buat malu lagi! Kamu ini cuma tentara. Nggak mungkin bisa bantu Mona! Apalagi pakai jaminan! Jangan buat kami kehilangan muka lagi!" Lidia mendekat dan berbisik dengan nada sarkas. Dia sangat muak dengan yang Ansel katakan.
1029.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 992 kali sebagai orang lidi sad
Baca
+Pustaka
Aku Juga Bisa Cantik, Nyonya.

Aku Juga Bisa Cantik, Nyonya.

Anak buah Mario hanya bisa menundukkan kepala. "Kalau sampai suami saya nggak bisa disembuhkan gimana? Kamu pikir saya mau punya suami plonga plongo! Kalian orang-orang pilihan, kenapa bisa bertindak sembrono! Otak kalian isinya apa, sih? Ta*!" Lidya terus memuntahkan amarahnya, hingga kata-kata yang keluar tak disaring lagi.
103.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 77 kali sebagai orang lidi sad
Baca
+Pustaka
Dinodai Sebelum Malam Pertama

Dinodai Sebelum Malam Pertama

Seketika mereka terperangah melihat keadaan Adriawan yang terkapar di atas ranjang hidrolik dengan selang infus yang tertancap pada pergelangan tangannya dan selang oksigen yang terpasang dalam hidungnya. “Papa!” pekik Lidia melihat kondisinya yang terlihat menyedihkan. Nyaris seluruh tubuhnya dibalut perban mirip mumi. Berbeda dengan sang ibu, ekspresi yang ditunjukan oleh Violeta justru kebalikannya. Ia berusaha menahan tawa. Berusaha mati-matian agar tawa itu tidak meledak. Namun rupanya tawanya tak bisa ditahan lagi dan akhirnya menggelegak.
10146.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.9K kali sebagai orang lidi sad
Baca
+Pustaka
Suami Hilang, Dapat Jodoh Dadakan

Suami Hilang, Dapat Jodoh Dadakan

Jangan lupa senyuman tidak mau luntur. "Woi, jawab! Malah diam , senyam-senyum gitu. Aneh! Lidya tolong pegang dahi om mu panas tidak? Ayah takut om mu lagi kesambet," Seloroh Ilham seraya bergidik ngeri. "Siap Ayah!" Ujar Lidya gadis enam tahun itu pun langsung mendekat pada Akbar dan menempelkan punggung tangannya ke dahi Akbar.
9.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 340 kali sebagai orang lidi sad
Baca
+Pustaka
Ketika Istri Kedua Jatuh Cinta

Ketika Istri Kedua Jatuh Cinta

Diberikannya itu pada Kia, sekalian dengan kunci motor. "Kamu sering sakit perut kalau minum air yang enggak direbus dulu." Senyum Lidia mengembang. "Selamat kerja, Kiandra." Senang mendapat ucapan begitu, Kiandra membalas senyum tadi. Perempuan itu bahkan mendekat pada Lidia untuk bisa mencium pipinya. "Makasih. Aku pergi dulu. Dadah!"
1025.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 700 kali sebagai orang lidi sad
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status