Menanti Kabut dan Awan Berpaling
"Aku sudah bilang, kamu harus pergi!"
Setelah hawa panas di tubuhnya berangsur reda, Ardian baru menumpu tanganku dan memeriksanya dengan teliti.
"Nggak ada yang sakit, ‘kan?"
Dia tampak persis seperti seorang anak kecil yang telah berbuat salah.
Sisi matanya memerah, matanya mencerminkan campuran rasa malu, rasa bersalah, serta kesedihan yang tidak dapat dibendung.
"Lidia ...." Suaranya terdengar parau. "Supnya masih hangat, makan sedikit saja, ya?"