Istri yang tak Berharga
“Capek apa, Mas?”
“Capek ngadepin gue. Gue kasar, gue dingin, gue bahkan nggak pernah nyoba baik ke lo. Lo nggak kesel sama gue? Lo nggak benci ke gue?”
Dia terdiam sejenak, lalu menunduk. Tangannya meremas ujung kerudungnya. “Saya… manusia biasa, Mas. Tentu ada rasa sakit, ada kecewa. Tapi…” dia menarik napas panjang, suaranya bergetar, “…saya menikah dengan Mas karena Allah. Kalau saya marah, kalau saya balas dengan kebencian, apa bedanya saya dengan orang yang tidak pernah belajar sabar? Saya hanya inginkan Rhido Allah, Mas. Meskipun Mas Fahri terus sakiti Saya, saya nggak akan membalas, Mas. Saya pasrahkan semuanya ke Allah, Mas.”
Bab Populer