Puncak kisah 'Pangeran Kesembilan' benar-benar menghantam seperti gelombang pasang—tak terduga, tapi setelah direnungkan, semua tanda sudah ada sejak awal. Awalnya kupikir ini bakal ending klasik di mana sang pangeran merebut takhta dengan darah dan air mata. Tapi ternyata, pengarangnya memilih jalan metaforis: sang pangeran justru melepaskan mahkotanya sendiri, memilih mengembara sebagai rakyat jelata. Adegan penutupnya di mana dia menyaksikan matahari terbenam di perbatasan kerajaan, sementara bendera kerajaan baru dikibarkan di kejauhan... itu jenius. Bukan happy ending, bukan tragic ending, tapi ending yang bikin kita bertanya 'apa artinya benar-benar menang?'
Yang bikin greget, konflik batinnya dieksekusi sempurna. Adegan perpisahannya dengan sang mentor—yang ternyata adalah ibunya sendiri yang menyamar—itu menghancurkan hatiku. Penggunaan simbolisme pedang yang patah ketika dia menolak duel terakhir, lalu diubah jadi cangkul buat bertani... itu level penulisan yang jarang kulihat di novel bergenre serupa. Ending ini mengingatkanku pada 'The Last Emperor' versi sastra fantasia.