Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Aku Diabaikan Saat Setia

Aku Diabaikan Saat Setia

tambahnya, tak terduga. “Boleh, Kang,” jawabku sambil mengangguk. “Ke Cikini membeli dukuh Wayah gini masih tunduh Nini-nini nginum jajamu Hari ini masih kangen surangen sama kamu” (Ke Cikini membeli duku Sudah siang masih mengantuk Nenek-nenek minum jamu Hari ini masih sangat kangen sama kamu) Kang Oded membawakan pantun dengan gaya orang berdeklamasi. Aku jadi geli, Kang Oded sedang berpantun atau sedang melawak, sih? Mau tak mau aku tersenyum melihat gayanya.
108.7K viewsCompletedAdded to Library 262 Times as pantun kangen
Read
+Library
Pendekar Kera Sakti

Pendekar Kera Sakti

Tamparan pelan tapi tenaga besar, tak heran membuat Kadal Ginting terjungkal ke samping sambil mengerang keaakitan. "Lain kali kalau bikin pantun harus ada artinya!" hardik Resi Pakar Pantun. "Misalnya begini: 'Celana kolor dibungkus pisang daun, robek daunnya tinggal pisangnya. Biar kecewaku sampai ke ubun-ubun, tapi masih ada pikiran untuk tugas lainnya'. Begitu, Tolol!" "O, jadi begitulah contoh pantun tolol, Eyang Resi?"
1031.1K viewsOngoingAdded to Library 931 Times as pantun kangen
Read
+Library
TUMBAL PENGANTIN

TUMBAL PENGANTIN

"Sekarang keluarga kita kayak dikirim santet, banyak serangga bau busuk, nenek mati gak wajar juga, kemarin Papa muntah darah." "Coba tebak siapa yang ngirim santet?" Tanya Rani. "Mama curiga sama kerabatnya Rumi, biasanya santet itu dikirim sama orang yang dendam. Asal kamu tahu, Rumi itu mati karena tradisi tumbal pengantin. Kusumadinata yang tahu. Coba tanya kakek kamu di kuburan." Rani melengos pergi. Edwin dan Intan lanjut menyambangi kamarnya. Mereka lantas merebahkan diri di atas ranjang.
102.8K viewsOngoingAdded to Library 73 Times as pantun kangen
Read
+Library
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Luna mengatur napasnya, masih berusaha menarik gagang ketik Aiden menyebutkan angka tiga puluh. "Ayo sayang sedikit lagi sampai lima puluh." Aiden memberi semangat ketika tangan Luna mulai melambat menarik gagang. "Hahhh.. melelahkan Aiden. Rasanya mulai berat.." Luna membalas lirih masih berusaha menarik gagang. "Empat puluh satu, empat puluh dua, empat puluh tiga, empat puluh empat, empat puluh lima.."
2.9K viewsOngoingAdded to Library 64 Times as pantun kangen
Read
+Library
Cinta Sang Preman

Cinta Sang Preman

Agar kuisi rumpang dalam tubuhmu Tidak apa dengan redup cahayanya Gulita lekas pergi dan mati Sampaikan pada surya agar menjelma tidak seperti jelaga Terang sinarnya berbinar dan menggelegar Bukan seperti kelabu awal resahku Diamku bergumam tentang rembulan dan rumpang Sampai kapan bertahan dengan cahaya yang remang Tak apa esok surya datang dengan silaunya Semuanya akan terlihat kembali saat rembulan selesai melerai Dan ragamu terlihat nyata seperti sediakala Tak ada lagi rumpang yang mengiang mengambang. Kutulis bait puisi itu demi menebus kejenuhan dalam kamar, entah kenapa sekarang aku sering merasa kangen pada sosok Kenzo. Duh, sejak kapan aku jadi bucin begini. [Hayo, lagi kangen ya?]
104.3K viewsOngoingAdded to Library 158 Times as pantun kangen
Read
+Library
Lebih dari selamanya

Lebih dari selamanya

"Oke...oke....sekarang giliran Amanda." "Aku juga tidak bisa." "Alah...ayolah Manda. Demi kita." "Baiklah." Amanda mulai berpikir sambil mencuri-curi pandang mereka. Lalu, ia menemukan pantunnya. "Berakit-rakit ke hulu...." "Cakep...." "Berenang-renang ke tepian...." "Cakep...." "Bersakit-sakit ke masa lalu...." "Cakep...." "Bersenang-senang ke masa depan...."
105.3K viewsOngoingAdded to Library 158 Times as pantun kangen
Read
+Library
JERITAN HATI SANG KUNTILANAK

JERITAN HATI SANG KUNTILANAK

Hobi benar dia bergelantungan kayak beruk di sana. "GR banget. Siapa juga yang kangen? Aku hanya tidak ingin kamu tinggalkan di sini." Aku membuang muka karena Rara mengubah kembali wajahnya menjadi begitu buruk rupa. "Aku barusan pergi boker. Mulas banget ini perut. Mungkin kebanyakan makan jambu air di pohon sebelah." Sembari meraut rambut panjangnya, Kuntilanak itu tertawa terkikik-kikik.
9.93.3K viewsCompletedAdded to Library 113 Times as pantun kangen
Read
+Library
Pengantin Dadakan

Pengantin Dadakan

Pamanku yang satu ini mahir membuat pantun. “Bulan puasa memakan kurma. Satu butir untuk berdua. Yang menunggu lama-lama. akhirnya bersanding penuh bahagia.” “Eaaak,” sahut Can di depan paman kami berdua. “Langit membentang warnanya biru. Datang hujan menimpa batu. Selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia sepanjang waktu.” Aku tersenyum mendengar pantun pamanku.
1018.4K viewsCompletedAdded to Library 699 Times as pantun kangen
Read
+Library
SANG KUPU-KUPU MALAM

SANG KUPU-KUPU MALAM

dia tak peduli dengan sindiran ayahnya, Alex yang masih berusia empat tahun justru memperlihatkan ego yang baru saja disusunnya. “Wah bagus sekali. Anak daddy sangat pintar.” mengomentari lego yang berhasil disusun oleh anaknya. “Mana ikannya daddy? Apa daddy tidak berhasil tangkap ikan?” “Maaf ya, daddy tidak dapat ikan hari ini. Kita sudah berlayar dua jam tapi belum dapat ikan. Maafkan daddy ya tidak bisa mewujudkan keinginanmu hari ini.” ucap Dante merasa tak enak hati.
1.5K viewsOngoingAdded to Library 54 Times as pantun kangen
Read
+Library
Kirana, Cinta Sejatiku

Kirana, Cinta Sejatiku

"Ini hadiah Valentine yang pernah diberikan Sendra kepadaku. Aku selalu menyimpannya dengan baik. Sekarang, aku akan memberikannya kepadamu." Sendra terbatuk canggung. "Jangan cuma ngobrol saja, ayo pesan makanan." Aku menatap liontin itu. Sisi depan liontin terukur nama Kirana, sementara sisi belakang terukir nama Sendra. Ukiran itu begitu sempurna dan tanpa cela, mirip dengan cinta mereka. Makanan pun segera disajikan. Ayam cabai garam, filet ikan, daging cincang pedas ....
5.0K viewsCompletedAdded to Library 184 Times as pantun kangen
Read
+Library
PREV
123456
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status