Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya
Kokoh, memimpin akar nadi yang berkedut, mendorong batang semburat merah segar turun-naik, berkedut mencium udara.
Bilah irisku tak mampu berpaling. Belum pernah sebelumnya, kubayangkan bentuk kelamin manusia jantan secantik ini. Mulus, tak berpori. Tanpa helai rambut sama sekali. Merah merona pada pangkalnya, menarik rasa haus di tenggorokanku. Diameternya tidak manusiawi. Mengukur dengan sepasang mata saja, perutku terasa penuh membayangkannya. Lubang jenis apa yang sanggup memeluknya?
Siapapun yang pernah berkawin dengan penis itu, pastilah terasa seperti simulasi mengeluarkan kepala bayi.
Hot Chapters