KEMBALINYA SANG RATU
Ia merengkuh buku itu, menundukkan kepala, dan membacakan bait-bait puisi kakeknya dengan suara bergetar:
Aku sujud,
tapi tak tahu: kepada siapa sesungguhnya dahiku ini menyentuh?
Apakah Engkau, Wahai Kekasih,
atau hanya bayangan dari diriku sendiri?
Suara Lintang mengalun pelan, bak aliran sungai kecil yang memecah hening. Setiap baris puisi itu menembus relung hatinya, menggugah kerinduan akan kesucian yang pernah ia miliki dahulu. Ia melanjutkan: