Mencintai Musuh Ayahku
Karin teringat akan sebuah pintu kecil di dekat dapur yang menuju ke arah gudang penyimpanan alat berkebun, yang posisinya berada di belakang barisan pepohonan pinus yang sangat rapat.
Dengan langkah yang sangat pelan dan hati-hati, Karin menyelinap di antara bayang-bayang perabotan mewah vila tersebut. Setiap derit lantai kayu terasa seperti suara ledakan yang bisa memicu alarm keamanan. Ia berhasil mencapai pintu belakang dan membukanya dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara decitan logam yang mencolok. Udara malam yang dingin langsung menyapu wajahnya, namun Karin terus berlari menembus rimbunnya pohon pinus, mengabaikan ranting-ranting tajam yang mulai menggores kulit lengan