Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?

Duke, Mengapa Kau Baru Memohon Saat Aku Pergi?

Ia membutuhkan kertas, setidaknya bisa untuk menuliskan keinginannya. “Maafkan aku. Usia tua ini membuatku tidak bisa melakukan banyak hal termasuk melihat apa yang kau bicarakan.” Darian menelengkan kepala. Suara berat penuh simpati itu sedikit menggelitik hatinya. Duke itu meminta maaf atas kekurangannya sendiri bukan menyebut kekurangan lawan bicaranya—padahal sama-sama memiliki kekurangan. “Aku harap kau bisa mengerti.”
1020.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 824 kali sebagai puisi duka
Baca
+Pustaka
Duka Cita

Duka Cita

Ia bahkan belum sempat membaca sekian banyak pesan dari Laura, sejak malam tadi. “Khilaf katamu!” Ingin rasanya Tessa kembali menampar Pandu. Karena berapa kali pun ia melakukannya, hal tersebut tetap tidak akan menggantikan luka yang ada pada fisik, dan mental Cita nantinya. “Yang bisa kamu lakukan saat ini cuma berdoa, supaya Cita baik-baik aja! Ngerti ka …” Suara gumaman kecil dari Cita, membuat Tessa segera berlari dan menghampiri gadis itu.
9.839.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.6K kali sebagai puisi duka
Baca
+Pustaka
Suka Duka Ibu Tunggal

Suka Duka Ibu Tunggal

pintaku. Dia mengangguk, "Oke." Setelah keluar dari rumah sakit, aku menatap langit biru dan mengembuskan napas panjang. Akhirnya, aku berhasil menyelesaikan dendam yang telah kususun selama lebih dari setahun. Suamiku, apa kamu melihatnya? Saat itu, polisi wanita datang menghampiriku dan berkata bahwa Orlando telah dijatuhi hukuman mati.
4.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 146 kali sebagai puisi duka
Baca
+Pustaka
JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU

JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU

Puing-puing kenangan yang mungkin tidak akan pernah terlupakan hingga akhir hayatku. Lagu ‘Duka Pasti Berlalu’ dari penyanyi legendaris –Nike Ardilla– aku persembahkan untuk salah satu orang yang paling berharga dalam hidup ini. Liriknya mengisahkan tentang dia yang pantang menyerah saat mengalami kegagalan panjang. Namun, tekadnya tidak pernah pupus mengejar kebahagian hingga ajal memasung usianya tanpa belas kasih.
1022.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 685 kali sebagai puisi duka
Baca
+Pustaka
SUAMIKU MATI DI TANGANKU

SUAMIKU MATI DI TANGANKU

kata Rinda dengan suara bergetar dan tangisnya lansung pecah. Mendengar hal itu, Dirga, si Pria Asing lansung terduduk lemah. Dia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. “Maafkan aku. Aku ngga bisa jaga Diana,” ucap Rinda lagi di sela tangis. Dia sangat merasakan duka yang dirasakan Dirga. Senyap di antara kami. Hanya isak tertahan dan desau suara angin. Aku membiarkan Dirga tenggelam dalam dukanya sebelum beranjak pergi dari sini.
2.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 64 kali sebagai puisi duka
Baca
+Pustaka
Dunia Azura Penuh Duka

Dunia Azura Penuh Duka

Namun ternyata ibuk Lisa lah yang berselingkuh dan pergi dari ayah. Sehingga ayah mencarinya kemana-mana , jadi sekarang aku harus gimana buk? Zura meminta pendapat dari buk Dita. "Kamu ikuti kata hati kamu nak, belajarlah memafkan jangan simpan dendam dihatimu nak sesungguhnya itu tidak baik apalagi kepada orangtuamu sendiri. Dita sembari mengusap air mata zura dan mengelus rambut zura yang sedang menangis dipangkuannya.
102.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 104 kali sebagai puisi duka
Baca
+Pustaka
Gairah Cinta CEO dan Peramalnya

Gairah Cinta CEO dan Peramalnya

Harapan yang belum sepenuhnya padam. 10.00 – Sesi “Berkawan dengan Duka” Dalam lingkaran diskusi, setiap orang berbagi cerita tentang duka yang mereka alami. Anya bercerita tentang Rio—tentang bagaimana kehilangan itu seperti lubang hitam yang sulit dihindari. Namun, kata-kata Prof. Surya menenangkan: “Duka bukan musuh. Ia hanya pengingat bahwa kita pernah mencintai dengan sepenuh hati.”
102.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 55 kali sebagai puisi duka
Baca
+Pustaka
Sang Menantu Perkasa

Sang Menantu Perkasa

"Jalan utara terbentang luas, awan menutupi bulan. Gagak tua di ujung ranting menangis sia-sia. Di dunia ini ada kuda hebat, tapi tiada pengenal sejati. Tanah kuning membentang jauh, hanya menyisakan belas kasihan bagi orang berbakat yang tak dihargai." Tubuh Dewi bergetar, dia hampir terjatuh. Arjuna juga tertegun sejenak. Puisi ini ditulis oleh Arjuna kemarin ketika dia merasa sedih setelah minum anggur. Ketika dia bangun paginya, dia sudah tidak melihatnya. Dia pikir kasim atau dayang istana yang mengambilnya, jadi Arjuna tidak memerdulikannya. Ternyata jatuh ke tangan Yudha.
9.3430.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 10.8K kali sebagai puisi duka
Tampilkan Ulasan (65)
Baca
+Pustaka
Hamfa Merman
Kisah seorang wanita muda yang pergi ke ibu kota untuk meraih mimpi malah mendapati CEO luar biasa aneh yang tinggal tepat di sebelah kamar apartemen miliknya. Baca hanya di novel berjudul CEO MISTERIUS DI SEBELAH KAMAR. Dijamin seru, menegangkan, dan baku hantam serta adu mulut pun ada.
Easy Loundry
ga cocok u pembaca kek aku yg menyanjung, pria dgn 1 wanita, yg g playboy, g apa2 jahat, intimidasi yg penting u 1 wanita, g suka pria yg gonta ganti wanita, celup sana celup sini. jd blm berani baca buku thor yg ini.. mianheee thorrr, nyari buku dgn judul yg laen milik thor aja...
Baca Semua Ulasan
Can't I Be Free?

Can't I Be Free?

Tapi sebelum bercerita, aku akan menyampaikan sebuah puisi sederhana sebagai pembuka cerita yang akan disampaikan olehku. Makhluk Tuhan Setiap hari adalah luka Setumpuk cercaan menimpa Membentuk serpihan duka Di dalam lautan air mata Aku ingin meronta Tapi tak bisa Semakin aku bergerak Digenggam jemariku sangat kuat Sayup-sayup aku berjalan Berniat untuk melarikan diri Tapi lagi dan lagi Bayangan itu seperti hantu yang mengikuti Tubuhku menahan sakit
104.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 117 kali sebagai puisi duka
Baca
+Pustaka
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

Saat dibacakan lantang di puncak Menara Pelintas Senyap, getaran halus menyelimuti seluruh lembah. Puisi: “Retakan yang Mendengar” Aku bukan suara, Aku luka yang berjalan, Tidak menuju akhir—tapi ke awal yang ditolak. Jika engkau dengar namamu dari pasir, Jangan jawab—itu hanya bayang yang belum melupakanmu. Maka, retaklah wahai batu! Buka mulutmu untuk segala yang tak pernah sempat dikatakan!
102.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 39 kali sebagai puisi duka
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status