Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
AEONIAN : Yang Pernah Terjadi Akan Abadi

AEONIAN : Yang Pernah Terjadi Akan Abadi

Mengapa kau mengalir pergi Kala ucap terpatri di hati Akankah kau buktikan kau benci dirimu sendiri Kau tolak empat mata Namun, kau suka main mata Nan, bolak balikkan kata Laksana bunga tidur yang terasa Pijar yang ku cari Bukan kata manis yang kau beri Nostalgia yang ku rasa Apa kau merasa hal yang sama? Iblis kejam... Lihat tanda tanya ini Bisakah kita menjadi sahabat? Atau Berteman hingga akhir hayat? Nan, maaf kutelusupkan kau dalam puisi ini 26-04-2018 “Siapa yang menulis puisi ini? Tidak ada penulisnya” ucap Arka “Mungkin di kotak tadi ada sesuatu yang lain” lanjut Arka sambil turun dari kasurnya mengambil kotak yang dia banting tadi
107.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 236 kali sebagai puisi jati diri
Baca
+Pustaka
Cinta Sekolah Menengah Pertama

Cinta Sekolah Menengah Pertama

ia menghilang saat mentari turun dari peraduanya tak sanggup ku kepakkkan kembali sayap ini ia telah patah… tertusuk duri duri yang tajam… hanya bisa meratap… meringis… mencoba mengapai sebuah pengangan…" Kak Citra membacakan puisi dengan penuh penghayatan. Musik masih mengalun pelan di sampingnya. Kak Citra seakan-akan bisa memboyong piala juara jika dia ikut kompetisi. Namun tidak dilakukannya. Dia tahu, dia memang sebagus itu. Kahlil Gibran adalah idolanya.
1015.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 517 kali sebagai puisi jati diri
Baca
+Pustaka
Terjebak Mantra!

Terjebak Mantra!

kemanusiaannya yang memang tak pernah ia “gulawentah” Akhirnya saya sedikit mafhum, warisan terbesar kita sebenarnya jikapun ia terselip dalam peradaban teks kita—yang sebenarnya bukan hanya teks “logis-rasional”, karena berwujud bahasa metafora “sastrawi” yang ditembangkan—hanya merupakan pandu awal agar kita menerjunkan diri dalam olah diri atau riyalat dalam bahasa Jawanya (baca: riyadhoh), sebagai ejawantah ilmu “Kasidan Jati”, “kasampurnan”, atau “ma’rifat”. Olah diri atau tepatnya “olah budi” (mesu budi) tersebut dimulai dengan cara mengenali diri, yang dalam bahasa kita, disampaikan dalam bentuk beragam ungkapan dari sejak zaman Yasadipura hingga Suryomentaram, yakni dari mulai term “
1010.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 303 kali sebagai puisi jati diri
Baca
+Pustaka
Terpaksa Menikah Dengan Abang Ipar

Terpaksa Menikah Dengan Abang Ipar

Pov Jibran *** Sekarang aku bagaikan gumpalan debu. Seolah hanya dirinya yang mampu merangkai kembali ragaku. Aku menjadi begitu rapuh Tanpanya, hatiku tak lagi utuh. *** "Sadaqallahul 'Adzim ...."
8.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 323 kali sebagai puisi jati diri
Baca
+Pustaka
Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Di atas kertas, sebuah puisi yang ditulis dengan aksara rumput liar terpampang jelas. Ketika Mardi, Haidar, dan yang lainnya kembali sadar dan membaca isi puisinya, wajah mereka perlahan memerah, dipenuhi rasa malu dan marah. [ Memuji Jarum ] [ Seratus kali tempa, jadilah sebatang jarum, ] [ Terbalik terguling, menari di atas kain. ] [ Mata seolah-olah tumbuh di bagian belakang, ]
10273.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 7.9K kali sebagai puisi jati diri
Baca
+Pustaka
Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan

Kehidupan Kedua : Terbangun Di Tubuh Putri Kerajaan

Ki Jayengkara melanjutkan, “Banyak yang belajar menulis aksara, membaca kitab, menembang tembang. Namun sedikit yang mau belajar mengenal dirinya sendiri. Padahal, tanpa mengenal diri, ilmu lain akan kehilangan maknanya.” Alea memperhatikan dengan saksama, merasa kata-kata itu seperti menampar pelan. “Kenal diri sendiri…” gumamnya pelan, seolah kata itu punya bobot lain untuknya yang sedang terjebak di tubuh orang lain. Ki Jayengkara lalu mengambil kendi kecil di depannya, menuangkan air ke mangkuk tanah liat. “Air ini,” katanya, “bening karena diam. Jika kau goyangkan, ia menjadi keruh. Begitulah batin manusia. Siapa yang hatinya tak tenang, maka takkan mampu melihat kebenaran.”
1.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 65 kali sebagai puisi jati diri
Baca
+Pustaka
Sang Penjaga Pajajaran

Sang Penjaga Pajajaran

“Aku adalah dirimu, Wisangjati. Dirimu yang memilih menyerah ketika Pajajaran runtuh. Akulah Kala Wisangjati. Bayangan itu atau tepatnya Kala Wisangjati melangkah maju. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar. Dari tubuhnya keluar asap hitam pekat, berputar seperti lidah ular. “Anjeun jadi pangeling waktu, tapi poho, waktu téh henteu butuh pangeling.” (Kau ingin menjadi pengingat waktu, tapi lupa — waktu tak butuh untuk diingat.)
101.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai puisi jati diri
Baca
+Pustaka
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Lalu satu suara pelan terdengar dari ujung aula: “Maka siapa yang menentukan makna, jika semua kata hidup?” 7. Dunia yang Membaca Diri Sendiri Pagi berikutnya, langit bukan lagi biru. Langit menjadi lembaran puisi. Dan setiap langkah santri menulis ulang puisi itu. Ada kalimat yang terbentuk dari cara mereka mengaji. Ada paragraf yang muncul saat mereka menyampaikan pertanyaan yang jujur. Ada halaman baru yang lahir setiap mereka berani mengatakan, “Aku tidak tahu.”
2.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 71 kali sebagai puisi jati diri
Baca
+Pustaka
Antara Peran dan Perasaan

Antara Peran dan Perasaan

Kata-katanya lebih banyak, tapi lebih tajam dalam diam. Suatu malam, saat hujan turun pelan, Nara menemukan sebuah kertas terlipat rapi di atas meja makan. Tertulis: “Untuk Mama dan Papa, dari Alana.” --- Puisi itu ditulis dengan tangan mungil tapi rapi. Tidak indah secara teknis. Tapi menyayat dalam cara yang tak bisa ditiru siapa pun. --- Judul: Rumah Tanpa Alarm
101.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 58 kali sebagai puisi jati diri
Baca
+Pustaka
MENJUAL DIRI DEMI ANAK TIRI

MENJUAL DIRI DEMI ANAK TIRI

Pria itu memberi kompensasi sekaligus mengunci gadisnya untuk tidak pergi dari hidupnya. "Saya tidak mau, jika harus tinggal di apartemen dengan Anda, Tuan." "Kenapa?" "Karena saya akan kembali pada kehidupan lama, yaitu menjadi tukang cuci piring lagi, sungguh, menjual diri adalah bukan impian apa lagi cita-cita, itu semua atas dasar ketidakberdayaan seorang ibu, kala melihat putrinya sedang berjuang melawan penyakit, dan harus segera dilakukan tindakan operasi, sementara mencari uang lima belas juta dalam sehari itu tidak mungkin bagi saya."
103.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 72 kali sebagai puisi jati diri
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status