Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Ujung Senja

Ujung Senja

“Kemana perginya hati. Kemana hilangnya rasa. Engkau kan menghilang diri, Sayang, untuk insan yang kau puja. Kutakkan berkecil hati. Kutakkan rasa kecewa. Walaupun perih pilu di hati. Kau kuiring senyum mesra. Ingatlah, kau, duhai Jelita, hati ini untukmu saja. Dhai kasih, sanjungan kalbu, engkau pergi tanpa relaku. Hatiku kau curi kini, kau bawa pergi bersama. Kering kini taman sanubari, tiada lagi senyum indah.”
108.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 291 kali sebagai puisi pendek chairil anwar
Baca
+Pustaka
Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

Andai Sinar itu Tak Pernah Ada

Dia mulai percaya Tuhan dan setiap hari merapal doa di dalam kamar rawat. Katanya untuk mendoakan keselamatanku. Aku malah gusar mendengar doa-doa itu. "Bu, nggak usah doa lagi," kataku. "Kalau Tuhan beneran punya mata, Tuhan nggak bakal biarin aku nanggung semua penderitaan ini." Ibu tertegun, kitab sucinya terjatuh ke lantai. "Riana..." "Aku mau makan iga asam manis." Aku memotong bicaranya.
7.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 208 kali sebagai puisi pendek chairil anwar
Baca
+Pustaka
Hanya Sesal yang Tertinggal

Hanya Sesal yang Tertinggal

Selama bertahun-tahun ini, syal, dasi kupu-kupu, kaus kaki, hingga pakaian hangatnya semuanya dirajut sendiri olehku. Pagi itu, aku melihat Laras mengucapkan selamat ulang tahun pada Ferdi di media sosialnya. Di situ terselip kartu sambutan dari Hotel Akasya yang tersohor itu. Aku pun mematikan pengingat di ponsel lalu fokus mempelajari materi konselor psikologi.
3.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai puisi pendek chairil anwar
Baca
+Pustaka
DOKTER SETAN

DOKTER SETAN

Aku memilih shift ruang rawat biasa, berharap jauh dari IGD yang belakangan terlalu banyak menyimpan misteri. Di ruang 5A, aku menemui pasien bernama Pak Maman—seorang pensiunan guru dengan keluhan nyeri dada. Usianya tujuh puluh, berbicara pelan, dan selalu membawa buku kumpulan puisi Chairil Anwar. “Kalau boleh tahu, kenapa Bapak selalu bawa buku itu?” tanyaku saat memeriksa nadinya. “Karena puisi tidak pernah mengkhianati. Tidak seperti manusia.”
1.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 34 kali sebagai puisi pendek chairil anwar
Baca
+Pustaka
Dokter Sakti Penguasa Dunia

Dokter Sakti Penguasa Dunia

Jadi, Ewan terpaksa memuji dengan terpaksa, "Bagus! Bagus sekali!" "Lalu menurutmu, gimana puisiku ini dibandingkan sama puisi Chairil Anwar?" tanya Nazar lagi. Dalam hati Ewan memaki, 'Nggak bisa lebih tebal muka lagi apa? Puisi macam apa yang kamu tulis, kamu sendiri nggak tahu? Masih berani bermimpi menandingi Chairil Anwar, benar-benar nggak tahu malu!'
9.51.1M DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 22.3K kali sebagai puisi pendek chairil anwar
Baca
+Pustaka
Kaca yang Pecah

Kaca yang Pecah

“Kalau begitu, Nona Jennifer maukah kamu memberiku kehormatan untuk berkencan sebentar?” Sambil berbicara, Rian mengulurkan tangannya seperti seorang pria terhormat. Angin bertiup sepoi-sepoi dan mata menawan itu tampak dipenuhi bintang. Tiba-tiba aku teringat sebuah kalimat dalam surat cinta itu. Hal-hal yang menggerakkan hati adalah hal-hal yang paling biasa, Seperti pecahan es yang berdenting, Seperti buah plum di mangkuk porselen putih.
7.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 176 kali sebagai puisi pendek chairil anwar
Baca
+Pustaka
Pangeran Pendekar Terasing

Pangeran Pendekar Terasing

Kemudian kedua orang itu duduk saling berhadapan. Kamar tidur yang ditempati Chiu Kang terbilang besar. Di setiap sudutnya ada lilin-lilin kecil seukuran batang kayu muda berbaris, sementara di tepi temboknya menempel obor besar yang cukup memberikan penerangan. Biasanya, lilin-lilin kecil itu digunakan saat penghuni kamar hendak tidur. “Menurut pengakuan mereka, orang-orang yang mereka tangkap dijuluki Empat Pendekar Wangi,” terang Park Wan.
8.217.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 677 kali sebagai puisi pendek chairil anwar
Baca
+Pustaka
Pria Cacat Itu, Suamiku

Pria Cacat Itu, Suamiku

Calia melihat itu. Saat ini lidah Calia mendadak menjadi kelu. Dia tidak dapat mengeluarkan kata-kata apapun. Calia juga tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Anwar dan apa maksud dari omongan Arwan tadi. Ketika Calia ingin membuka suara, Arwan sudah melangkah pergi dan keluar dari ruangannya. Pada saat Calia sudah tidak bisa melihat punggung itu, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, hatinya merasa begitu sedih.
1012.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 394 kali sebagai puisi pendek chairil anwar
Baca
+Pustaka
Terjebak Cinta Terlarang

Terjebak Cinta Terlarang

22. Terjebak Cinta Terlarang Baru saja mau membuka hati, kecewa kembali Penulis: Lusia Sudarti WARNING!!! Mengandung konten dewasa!! Bijaklah untuk memilih. RATE 21++++ Part 22 Aku mengangguk. Anjani tertidur dipelukanku. Kasihan sekali, usianya masih terlalu kecil untuk mendengarkan kata-kata yang tak pantas.
2.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 61 kali sebagai puisi pendek chairil anwar
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status