Balada Asmara Biduan Dangdut
Aku berharap, malam ini bisa melihat wajah Aisyah barang hanya sebentar saja.
Tapi itu tak mungkin terjadi. Malam terlampau larut, dan barangkali Aisyah sudah lelap dipeluk mimpi-mimpi. Namun, aku masih setia menunggunya di sini; di teras rumah bersama teman paling setia: rasa rindu dan segelas kopi.
Kuambil secarik kertas dan pulpen, kemudian aku menulis puisi. Entah mengapa aku menjadi melankolis seperti ini? Barangkali karena puisi bisa mengobati rasa gundah di hati.