Bayang Pedang Cahaya Bulan
Nenek Yue menangkap tatapannya dan menggeleng kecil, gerakan yang hampir tidak kentara namun cukup untuk menyampaikan pesan tanpa kata: tenang, aku tahu apa yang sedang kaupikirkan, jangan.
Yue Chen mengembuskan napas. Ia menghitung. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh, hingga dua puluh, kebiasaan yang diajarkan neneknya sejak kecil untuk meredam gejolak di dada sebelum tangan sempat bertindak lebih dulu daripada pikiran.
Dua puluh jiwa yang masih bernapas. Dua puluh jiwa yang masih berada di balik gerbang batu ini. Dua puluh alasan untuk tidak menyerah.