KAMAR KEDUA
Ritme itu bertambah cepat.
Sheza mengerang lagi. Kali ini lebih dalam, lebih rendah. Suara yang membuat Satria mengatupkan rahang, menahan desahnya sendiri. Ia mempercepat sedikit. Hanya sedikit namun cukup untuk membuat tubuh mereka semakin menyatu, semakin sulit dibedakan.
Gerakan Satria kini konsisten, mendesak, seperti gelombang yang tak lagi surut. Sheza mencengkeram seprai. Bahunya terangkat dengan napas tersengal.