ISTRI KEDUA AYAHKU
Eyang membunuh Eyang kakung?
Dalam ingatan yang samar, wajah Eyang kakung menjelma di pelupuk mata. Wajah tampan dengan mata dan senyum yang teduh. Dua puluh tahun yang lalu, usiaku lima tahun kala itu. Pagi sepulang dari sekolah taman kanak-kanak, rumah telah ramai. Ada bendera kuning di sana, dan tubuh Eyang kakung terbaring kaku ditutupi kain batik bermotif parang kesukaannya. Di sisi kepala, Ayah duduk sambil membenamkan kepala dalam dalam. Disebelahnya ada Bunda yang mengaji dengan suara parau. Dan juga ada Eyang putri dan Mama di sisi lain, menangis dan meratap ratap. Saat itu aku heran kenapa semua orang bersedih, kenapa rumah begitu ramai, dan kenapa Amira dan juga Huda duduk diam ti