SETELAH TALAK TIGA
Aku melihat Pak Abi ikut masuk bersamaku, tumben dia datang jam segini, biasanya kan sebelum pukul tujuh pagi.
"Pagi, Pak!" sapaku sebatas formalitas pada atasan, dia menoleh.
"Pagi juga, Haniiin," sahutnya dengan memanjang-manjangkan ujung namaku, sekelip mata dia tersenyum. Seperti biasa, senyum langka yang amat manis.
Aku membuang muka, kok dia aneh banget pagi ini, apa mungkin salah sarapan? Tapi ... bukankah ini bagus?
Hot Chapters