Terjerat Takdir Tuan Saka
Langit sore masih menyisakan rona jingga saat mobil Saka melaju pelan memasuki rumah. Sepanjang jalan, pikirannya bukan penuh soal pekerjaan. Bukan juga soal meeting atau deadline. Melainkan tentang satu kalimat yang ia dengar beberapa hari lalu.
"Kalau saya punya pacar, itu namanya selingkuh. Dan saya benci perselingkuhan."
Saka mendecih pelan, satu tangan menggenggam erat ponselnya, satu lagi menekan pelipisnya. "Ngapain juga dipikirin," gumamnya kesal pada diri sendiri.