Ujung Senja
“Tak ada tata krama kau, Ra. Laki masih duduk di sini, kau hendak pergi. Oh iya, bereskanlah baju kau. Besok pagi, kita pulang ke Jakarta.”
“B-besok, Bang?“ tanyaku. Aku sungguh tak percaya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suamiku itu. Bisa-bisanya dia mengajakku pindah saat duka masih menyelimuti rumah ini.
“Iyalah. Mau sampai kapan aku di sini? Kerjaanku menunggu di sana. Jadi, kau siapkanlah barang kau semua. Entah kapan kita bisa kembali ke Siak.”
Bab Populer