Rasaku Ditelanjangi
Kami masuk bersama-sama, telanjang dan lelah, tapi tetap saling memandang seolah tak ada yang lebih penting dari kehadiran masing-masing.
Air hangat menyapu kulitku. Aku berdiri membelakangi pancuran, mencoba memejamkan mata. Tapi Arga tidak tinggal diam. Ia berdiri di belakangku lagi, seperti tadi di ranjang, lalu meraih sabun cair dan mulai mengusap tubuhku perlahan.
“Punggungmu merah,” gumamnya sambil membasuhku dengan busa lembut.