Buncitnya Jenazah Kakakku
Tidak suka dengan tatapannya tersebut.
"Ambil aja. Tapi, langkahin gue dulu!" Nada suara Zhafran terdengar berat.
"Hahaha, itu, mah, sama aja nggak boleh!" Mereka tertawa bersama lagi.
Kami melanjutkan langkah menyusuri koridor. Aku melihat lantai gedung ini begitu kontras dengan lantai bawah yang penuh debu dan barang-barang bekas. Berbeda dengan lantai ini yang dipenuhi sofa, televisi, bahkan ada meja bliard di pojok sana. Terlihat mewah, walaupun dengan dinding yang catnya mulai terkelupas.