Teman Tidur Suamiku
Ilham yang tadinya kaku kini sedikit melunak, digantikan oleh sorot mata penuh rencana yang samar.
Meja marmer mahal, yang tadi terasa seperti medan perang emosional, kini berubah menjadi ruang taktis dadakan. Sasha mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang tajam di balik bingkai kacamata beningnya memancarkan kecerdikan yang tidak ia tunjukkan di hadapan Elia dan Lisa.
“Oke. Kita harus kasih mereka kejutan. Aku yakin kamu ke sini karena dipaksa Tante Elia, kan?” Sasha berbisik, tetapi nadanya tegas.