Cinta yang Salah
“Iya, Mi. Apa pun kondisinya, dia adalah malaikat kecil kita, Mi. Tentu saja, aku akan memberikan cinta dan kasih sayang setulus hati, Mi. Kata dokter, kita bisa mengoperasi bibirnya saat umurnya tiga bulan, Mi. Semua akan baik-baik saja, selama kita bersama dan saling menguatkan, Mi. Jangan sedih ya? Kasihan lho kalau maminya malah sedih terus.”
Faniza hanya mengangguk dan buliran beningnya kembali tumpah. Air mataku pun ingin menampakkan diri lagi. Namun, aku menahannya agar istriku tidak bertambah sedih. Meski mata ini sudah terasa panas, aku tetap membendungnya. Tentang hatiku, jangan ditanya. Di sana ada beban besar yang sedang menindih begitu berat. Dada ini terasa sesak.
Hot Chapters