Suatu Senja di Tanah Senja
“Selama perang, mata saya ini menyaksikan orang-orang saleh menjadi penjahat. Bahkan lebih buruk lagi. Penjahat adalah orang tidak bermoral yang mengakui ketidakbermoralannya. Sedangkan para orang saleh ini, orang yang sering memberikan ceramah moralitas ini? Ya, Bung, semua itu mereka lakukan demi sesuap nasi—sesuap nasi, Bung. Saya tidak mampu mengingkari semua itu. Bagaimana sesuap nasi—hal remeh tak masuk akal—mampu mengubah tatanan alam, menjungkirbalikkan struktur penciptaan, dan membatalkan kearifan Yang Maha Kuasa sebagai arsitek semesta raya yang sempurna.”
“Aku tidak tahu, Ana,” jawabku jujur. “Tapi mungkin aku dapat mengerti mengapa sesuap nasi menjadi seberharga itu. Kadang-kadan
Bab Populer