Bukan Surga Terindah
“Kamu ngerti nggak, sih, Han? Aku itu kangen sama kamu.”
Air mata menggenang di pelupuk. Aida lantas duduk di kursi kerja Hanan, mencoba memahami apa yang sedang terjadi dalam pernikahan mereka. Dia letakkan kembali pigura itu di tempatnya, lalu menyeka air mata. Satu tarikan napas dia embuskan dengan keras, berharap mampu menguras sesak did dalam dada. Ketika dia menurunkan tangan, laci di sisi kiri meja menarik perhatian. Dengan ragu, Aida membuka laci itu. Ada sebuah map berwarna biru yang tampak mencolok di antara beberapa dokumen yang disusun dengan rapi.
Bab Populer