Poor Fatma
Apa dia pikir berbagi suami itu menyenangkan?
“Mbak, Mbak, kita pikirkan itu nanti, kalau Mbak Ajeng sudah sembuh. Mbak ingat tidak, besok harus mulai terapi dengan si dokter perempuan tadi sore? Ingat, tidak?” Kualihkan pembicaraan.
“He–em, aku ingat. Dan kupastikan terapi itu hanya berjalan satu kali, Fatma. Tidak akan ada yang kedua. Aku sembuh, dan ini berkat kamu!” Dia mengguncang-guncangkan tanganku.
Bab Populer