Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Love life hope

Love life hope

Alaram ponsel Nana menyala tepat ketika jam menunjukkan pukul empat pagi. Dengan segera dia memaksa dirinya bangun, dan mulai melakukan kegiatan membersihkan rumah. Menyapu, mengepel, dan memeriksa isi kulkas. "Ah, sial! Lupa belanja bahan." Keluh Nana. Dia ingin membuat bekal dan sarapan, tapi bahannya sudah jauh dari kata cukup, dan kemarin dia lupa membeli ketika pulang dari tempat Rion.
3.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 126 kali sebagai slice of life
Baca
+Pustaka
A bittersweet life

A bittersweet life

ucap Richard dnegan pede membut Leon tersenyum gembira. "Baiklah jika itu mau mu, berikan aku pisau daging yang ku minta bawakan tadi?" tanya Leon kepada Luke. "Ini tuan,"Luke menyerahkan pisau daging yang Leon minta. Pisau daging itu berukuran cukup besar, membuat Richard meneguk ludahnya saat melihat pisau yang Leon pegang, Tapi tidak membuatnya takut. "Sepertinya enak jika aku memotong jari mu terlebih dahulu," ujar Leon menunjuk jari jari Richard.
1011.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 285 kali sebagai slice of life
Baca
+Pustaka
Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam

Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam

Tubuhku seperti hancur perlahan, rasa sakitnya ada di mana-mana sekaligus tak bisa kutunjuk. Dengan tangan gemetar, aku mengambil keluar sisa terakhir obat penghilang rasa sakit dari tas kecilku. Tiga hari untuk hidup. Bagus. Harusnya cukup. Pil itu larut di bawah lidahku, memberiku secuil kekuatan. Aku memanggil taksi menuju vila pinggir laut.
8.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 287 kali sebagai slice of life
Baca
+Pustaka
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Menunggu sang Mama menaruh roti panggang dengan omelet dan sosis di atas piring, kemudian memberikannya pada Nadisa. Nadisa senang sekali. Mamanya terlihat lebih baik hari ini. Kantung mata yang kemarin terlihat di wajah cantik Mama Ayu juga sudah memudar. Beliau juga sudah bisa tersenyum dengan lepas. Mama Ayu sepertinya sudah sembuh dari luka yang ditorehkan sang Papa. "Terima kasih, Mama Cantik!" ujar Nadisa. "Iya, Sayang." Jeffrey menjadi orang berikutnya yang menerima piring berisi makanan dari sang Mama. Tentunya ia terima dengan senyuman di wajah tampannya, hingga lesung pipinya muncul dengan menggemaskan.
1014.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 366 kali sebagai slice of life
Baca
+Pustaka
Lie of Life

Lie of Life

Suasana hening untuk sejenak hingga Nia berujar lagi, “Gue bercanda, Lim ….” Salim tertawa. “Ya, pokoknya, sama kayak sendok-garpu, bantal-guling, piring-gelas, pensil-penghapus, gue dan lo, maybe ….” Ia menggidikkan bahu. “Hasil yang baik dan usaha keras, itu sama kayak gitu.” “Tapi, Lim … emangnya salah, ya, kalau gue pengin mencoba jalan lain? Hidup ini journey, bukan? Setiap orang bebas berpetualang dan mencoba hal-hal baru.”
2.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 54 kali sebagai slice of life
Baca
+Pustaka
Dark Life

Dark Life

Pakaian penuh tambalan di mana-mana membuat Jack sekali lagi merasa kedinginan dalam kesunyian. “Kapan ini semua akan berakhir?” batinnya. Ia membayangkan bagaimana rasanya hidup sebagai seorang bangsawan, di dunia yang ia diami saat ini. Pasti rasanya menyenangkan! Tidak akan kelaparan, tidak mengalami kekerasan, dan kehidupan malang yang menimpanya tidak akan terjadi di kehidupan bangsawan. Bahkan, untuk bangsawan dengan level terendah seperti pemimpin daerahnya saat ini, Baron Louce, terlihat memiliki kehidupan yang menyenangkan. Ia kerap kali diceritakan oleh paman penjual kain di pasar, tentang kehidupan masyarakat kelas atas. Kehidupan dengan bergelimpangan harta, berada di puncak keku
2.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 88 kali sebagai slice of life
Baca
+Pustaka
Kehidupan Fotografiku

Kehidupan Fotografiku

Aku pun turun dari mobil dan menghampiri Willy yang baru saja turun dari mobil sopir penggantinya. Willy tidak terburu-buru masuk. Dia menarikku ke sebuah paviliun di depan pintu, menyodorkanku sebatang rokok, lalu bergumam seolah bicara pada dirinya sendiri, “Seenak apa pun makanan, kalau dimakan terus pasti akan bosan. Secantik apa pun wanita, kalau ditiduri terus pasti akan bosan juga.” Aku benar-benar bingung, tapi aku tetap diam menunggunya melanjutkan.
2.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 86 kali sebagai slice of life
Baca
+Pustaka
Jangan Pegang, Coach

Jangan Pegang, Coach

tanya Mey sambil nyeruput green smoothie. “Now? Honestly, I can’t imagine living anywhere else. But, it took time.” “How much time?” “Real answer? About eighteen months. First year was survival. Second year was thriving." “What changed?” "I stopped trying to recreate London life here dan started building Singapore life instead." "What's difference?" "London life was about relationships I already had, places I already knew, person I already was. Singapore life is about relationships I'm building, places I'm discovering, person I'm becoming."
1013.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 265 kali sebagai slice of life
Baca
+Pustaka
Ranjang Kehidupan

Ranjang Kehidupan

Semua beralih pandangan menuju tukang nasi goreng. Tukang nasi goreng berkata serius, empat pemuda itu memperhatikan dengan saksama. “Hidup itu adalah masalah,” katanya dengan penuh wibawa, “hidup akan selalu ada masalah yang datang, dan jika ada masalah,” tukang nasi goreng sengaja menggantung kata-katanya, “makan nasi goreng super adalah jalan kuncinya.” “Jangkrik, kirain serius!” Alfin mencak-mencak tidak terima.
102.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai slice of life
Baca
+Pustaka
Hello, Real Life

Hello, Real Life

Letta bercerita panjang lebar apa yang dialaminya malam itu setelah Alicia dilarikan ke rumah sakit, sepanjang cerita Alicia hanya memasang ekspresi terkejut dan mengerutkan dahinya berbeda dengan Rio yang mendengarkan sembari memakan apel. Bahkan Felix hanya memainkan kunci mobilnya tanpa menyela yang sedang bercerita. Alicia mendengus setelah Letta menceritakan itu. “Ambilkan aku pisau dan apelnya.” Rio memberikannya dengan senang hati. “Memangnya kamu boleh makan makanan keras?” Gadis itu hanya memberikan tatapan sinis dan mulai memotong buah tersebut lalu memberikannya kepada tamu-tamunya ini.
104.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 142 kali sebagai slice of life
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
12
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status