Tiga Mayat Satu Takdir
Ia menutup mata, telinga supernya menangkap setiap suara—dengungan sayap parasit, gemuruh lendir raksasa, dan detak jantung kelompoknya yang cepat.
Dengan konsentrasi penuh, ia merasakan kemampuan soniknya menyatu dengan pendengarannya yang super, menjadikan frekuensi suara di sekitarnya lebih tajam, lebih hidup, seperti aliran air yang bisa ia bentuk. Ia membuka mulut, mengontrol gelombang frekuensi dengan hati-hati. Untuk pertama kalinya, gelombang soniknya berubah jadi gelombang tajam yang menakutkan—suara tak terdengar yang memotong udara seperti pisau tak kasat mata, mengguncang lantai dengan getaran halus.
"Laila, kau bisa!" seru Sarah, suaranya bergetar penuh harapan meski napasnya te
Hot Chapters