Jiwa Yang Tertukar
Mungkin ia bingung harus berkata apa.
"Jika aku ceritakan yang sebenarnya apa kau masih bisa percaya padaku?"
"Tergantung seberapa besar kau berhasil meyakinkanku. Juga beri tahu aku mengapa aku harus percaya padamu?"
"Baik, sebelum aku beberkan semua, satu sifatku yang bisa kamu ingat dan jadikan bahan pertimbangan adalah kejujuranku."
Mendengar itu, aku tertawa sinis. Entahlah, rasanya sulit sekali menyisihkan empatiku padanya. Kejujuran, dia bilang? Huh!