Luka Tak Terlihat
Surat itu ditulis dengan tangan, tinta sudah mulai pudar, tetapi masih bisa dibaca.
"Untuk Aris, anakku yang kuat," tulis pembuka surat itu.
Aris merasa jantungnya berdegup kencang. Ia mulai membaca surat itu dengan penuh perhatian. Kata-kata dalam surat itu seolah datang dari masa lalu, membawa pesan yang akan mengubah cara pandangnya terhadap keluarganya.
Namun, sebelum ia selesai membaca, pintu kamarnya terbuka. Ibunya berdiri di sana dengan wajah marah. "Apa yang kamu lakukan malam-malam begini?"
Hot Chapters