Satu Kali Lagi, Mas
Tatapannya kosong, terpaku pada lampu-lampu jalan yang bergerak cepat di luar jendela, menyerupai garis-garis cahaya yang memudar.
Prana mengeratkan genggamannya, memberikan tekanan kecil yang menguatkan.
“Tidak ada yang jahat dalam memperjuangkan kebahagiaan sendiri, Num. Terkadang, ini satu-satunya cara untuk tetap hidup, bukan sekadar bernapas. Kita ke apartemenku, ya? Kamu butuh tempat yang benar-benar tenang.”
Shanum hanya mengangguk pelan. Pikirannya seperti kanvas kosong yang baru saja disapu badai, namun hatinya terasa sangat penuh—sesak oleh perasaan lega yang luar biasa.
Sikat na Kabanata