Satu Atap dengan Pria Dingin
Ia berdiri dengan cepat, sengaja menghentakkan kakinya keras-keras, lalu melangkah keluar menuju area taman samping rumah untuk mencari udara segar sekaligus mendinginkan kepala.
"Dasar kulkas rusak! Beruang kutub! Untung aku masih berperi kemanusiaan, kalau nggak udah aku racun pakai garam satu kilo biar dia tahu rasa," omel Avena sepanjang jalan di taman. Ia berkacak pinggang, menatap tanaman-tanaman hijau yang tampak rimbun. "Nenek, cucumu ini menikah sama manusia atau patung semen, sih? Heran banget, hemat kosakata banget kayak bayar pajak per huruf."