Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
MADU YANG KUPILIH

MADU YANG KUPILIH

aku mengiring mama mertuaku masuk kedalam rumah, lalu gegas kedapur membuatkan teh dan membawa cemilan untuknya. "Sayang ... maafin mama yang mengabaikan kamu beberapa hari ini." mama mengusap pundakku. "nggak apa-apa kok ma, kami yang salah karena sudah berbohong." ucapku tersenyum sambil meraih tangan mama lalu mengenggam jemarinya. "Oh ... Iya ma! doakan semoga Nisa cepat hamil ya? ujarku memberi kabar gembira untuknya.
1.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 47 kali sebagai teks madaihuna
Baca
+Pustaka
BA'DA MAGHRIB

BA'DA MAGHRIB

"Ada apa, Bu?" "Tolong buatkan teh hangat untuk tamu kita." Sekar mulai mencuri pandang ke arah Reihan. Tidak hanya itu, Sekar juga menyuguhkan senyum manisnya, hingga membuat Reihan terpesona. "Oh, saya Reihan. Saya anak dari pak Narko, yang punya kontrakan ini." Reihan mengulurkan tangan. Berharap Sekar mau membalas jabatan tangannya.
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 69 kali sebagai teks madaihuna
Baca
+Pustaka
Mandul

Mandul

Rasanya wanita itu membutuhkan udara segar untuk mengatasi badmoodnya sedari pagi. "Wah wah siapa ini?" suara yang pernah mengisi hari-harinya kali ini terdengar sangat tidak enak. Riri menoleh. Seketika dia mendesah kesal. Hari yang buruk! Umpatnya dalam hati. "Kakak maduku ternyata pergi ke mall? Apa kau yakin memiliki uang?" ledek Nisa dengan bergelayut manja di lengan Ayus.
105.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 107 kali sebagai teks madaihuna
Baca
+Pustaka
Mas Duda Yang Dihina

Mas Duda Yang Dihina

Sura jangkrik mengisyaratkan waktu sudah mulai Maghrib. Mentari mulai tenggelam dan memudar cahaya pantulnya dan berganti dengan awan tebal hitam. "Ron, aku curiga Bayu itu punya pesugihan. Dia kuli tiba-tiba mendadak kaya. Padahal dia hanya pengangguran dan kerja membuat sangkar burung. Itu entah laku apa enggak," ujar Suherman yang selalu berprasangka buruk.
101.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 32 kali sebagai teks madaihuna
Baca
+Pustaka
Kubayar Lunas Tantangan Maduku

Kubayar Lunas Tantangan Maduku

Kutatap layar ponsel di mana pesanku telah terkirim ke nomor Mas Sultan, centang dua biru, tapi tak ada balasan sama sekali. Argh, membayangkan dia sibuk bermesraan dan mengabaikan pesan tentang sakitnya Afif, sudah membuat mataku semakin perih saja. Kuembuskan napas dalam-dalam berharap beban yang menghimpit dada ini ikut ke luar bersama udara beracun dari sana. “Nomor 192, atas nama pasien Muhammad Afif!” Suara dari speaker terdengar. Aku pun terkesiap dan lekas bangkit dari duduk untuk memenuhi panggilan itu.
20.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 750 kali sebagai teks madaihuna
Baca
+Pustaka
Godaan Mama Muda

Godaan Mama Muda

Kara duduk di kursi tinggi, kakinya bergoyang-goyang sambil menggambar dinosaurus baru dengan krayon warna-warni. Maya berdiri di depan kompor, memakai apron sederhana, rambutnya diikat asal-asalan. Sesekali ia melirik Radit yang duduk di meja makan, masih agak pucat tapi sudah mulai tersenyum. “Papa, ini T-Rex lagi lindungi keluarganya,” kata Kara sambil menunjuk gambarnya dengan bangga. “Kayak Papa lindungi aku dan Mama. Papa suka?”
9.8119.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 4.2K kali sebagai teks madaihuna
Baca
+Pustaka
MADU YANG BERACUN

MADU YANG BERACUN

tanya bu Inggrid setelah Embun meletakkan minuman untuknya. "Alhamdulillah baik, Ma," jawab Embun sambil mendaratkan bokong di sofa. Bu Inggrid menyesap teh hangat buatan sang menantu, wanita paruh baya itu memang menyukai teh buatan Embun yang tidak terlalu manis dan pas di lidahnya. "Apa Lintang sudah bicara sama kamu?" Bu Inggrid meletakkan cangkir teh "Bicara apa, ya, Ma?" Embun terlihat bingung.
105.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 161 kali sebagai teks madaihuna
Baca
+Pustaka
Madu Dari Dunia Lain

Madu Dari Dunia Lain

Helsa tidak tahu harus bertanya kepada siapa, karena orang yang dikenalnya di sana hanyalah Bi Unah, tapi dia tidak bisa memastikan apakah wanita paruh baya itu bisa menyimpan pembahasan tersebut dari majikannya? "Kamar itu sudah lama tidak ditempati, Non. Bekas almarhumah Non Maira." Bi Unah pula memandangi pintu kamar itu, dia seolah menerawangnya dengan tatapan tajam. Akan tetapi, pada akhirnya wanita paruh baya itu menyeret Helsa untuk menjauh dengan jarak kamar tersebut.
1.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai teks madaihuna
Baca
+Pustaka
Batal Di Madu

Batal Di Madu

tanya Raga penasaran. Seketika beberapa orang mungkin yang mengerti kata itu terkekeh saling pandang sepertinya sedang mengejek. “Walah kamu enggak tahu kata itu, dasar udik sekali dia, penampilan seperti orang kaya jangan-jangan kreditan semua ini. Madesu itu singkatan masa depan suram,” sahut pria tua itu kembali menertawakan Raga bersama dengan orang-orang itu.
7.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 209 kali sebagai teks madaihuna
Baca
+Pustaka
Maduku Sahabatku

Maduku Sahabatku

jawabku sembari mengecup pipi gembulnya itu. "Mama juga punya sahabat? Jadi seperti Nada dan Nadia dong , Ma," ucap Nada dengan polosnya memamerkan sahabatnya juga si Nadia. "Iya, sahabat dekat seperti Nada dan Nadia," "Yeay... Kapan-kapan Nada pengen ketemu sahabat Mama itu, namanya siapa, ma?" "Namanya Tante Sinta, sayang," "Sudah, Nada berangkat sekolah dulu, nanti kesiangan loh."
1014.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 347 kali sebagai teks madaihuna
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status