Balada Asmara Biduan Dangdut
Kami mengambilnya masing-masing.
Sial, tidak ada nasi pecel atau semur jengkol? Bahkan aku tidak bisa membaca menu-menu tersebut, tulisannya semua berbahasa Inggris.
“Ayo-ayo pesan dulu. Saya nanti saja,” ucap Om Guntur Alam di sela kegiatan menelponnya. Kami semua mengangguk-angguk.
“Stt, heh, Kang, Kang Bambang,” bisikku lirih.