Dia Kehilangan Segalanya
Sampai suatu ketika, saat aku pulang ke dalam negeri untuk rapat tahunan, aku bertemu dengan Grace yang sedang menungguku.
Wajahnya tampak sangat letih, tak ada lagi kesombongan masa lalu, hanya rasa bersalah yang mendalam.
“Kak Nessi, maafkan aku. Semua yang terjadi dulu itu salahku, semoga kamu bisa memaafkanku.”
Aku hanya tersenyum tipis. Semua itu sudah nyaris kulupakan.
Saat aku hendak bertanya tujuan kedatangannya, Grace mengeluarkan sepucuk surat dari tasnya.