Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Hajatan Tetangga

Hajatan Tetangga

Bu Bondan mengoceh sendiri. Aku hanya tersenyum mendengar ocehan Bu Bondan, aku tahu dia hanya kepanasan melihat springbed merk ternama itu. Penyakitnya irinya memang belum sembuh. Kasihan juga melihatnya. Apa kami harus sembunyi-sembunyi bila membeli sesuatu? "Ini apa, Pah?" tanyaku pada suami ketika ada truk kecil membawa tepas dan atap daun rumbia. Tepas adalah dinding dari bambu yang diolah sedemikian rupa.
1041.9K viewsCompletedAdded to Library 1.0K Times as traté
Read
+Library
SANTET

SANTET

SANTET PAKAIAN DALAM 11 Tepat tengah malam, Ita duduk di kursi menghadap jendela kamar Nining. Ia menaruh meja kecil di depan jendela kamarnya, menempelkannya ke tembok. Di atasnya Ita menaruh cawan yang telah ia isi dengan air, di atas permukaan cawan itu ia taburi bunga. Lalu dengan silet Ita melukai ujung jari telunjuk dan jari tengahnya. Darah menetes ke dalam cawan. Kemudian Ita mengaduk-aduk isi cawan tersebut, sehingga air yang tadinya bening seketika berubah warna menjadi merah. Secuil kemenyan ia bakar, baunya menguar menusuk indra penciuman. Asap itu meliuk-liuk disapu angin. Setelah Itu Ita menutup matanya, menangkupkan kedua tangannya di atas kepala. Mulutnya berkomat-kamit me
9.37.2K viewsCompletedAdded to Library 287 Times as traté
Read
+Library
MATE

MATE

Astaga, aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku membasahi tenggorokanku. “Minumlah,” kata laki-laki itu yang sepertinya tau apa yang tengah kurasakan. Dingin dari mulut gelas menyentuh bibirku. Menuntunku untuk meneguk habis isi dari gelas itu. Kurasa aku benar-benar kehausan. “Bisa kutau namamu sekarang, sayang?” tanya wanita itu kembali setelah aku selesai menghabiskan minumanku. Dengan suara lirih dan ragu aku menjawabnya, “Le ... Levia Fransia.”
109.5K viewsCompletedAdded to Library 294 Times as traté
Read
+Library
Mate

Mate

Intan Pitalokamatchederesaneel
Aduh, kayaknya sakit gigi-ku kambuh lagi. “Kamu kenapa?” “Sakit gigi, Mas. Huhuhu…” aku memegangi pipiku sebelah kiri. Mas Wira membuka ranselnya. Lalu, mencari sesuatu. Ia menyodorkan obat. “Nih, minum.” “Obat apaan nih?” “Obat sakit gigi lah. Masa obat sakit hati.” Ingin rasanya aku menjitak kepala orang di depanku ini. Untung saja dia lebih tua dariku, jadi aku masih sedikit menghormatinya. “Soalnya aku biasanya minum ponstan atau paracetamol.”
104.0K viewsOngoingAdded to Library 131 Times as traté
Read
+Library
A Trap

A Trap

M ~ *** Tak terasa, air mata mengalir deras di wajah manis milik Allena Maura Mahardian. "Kamu menangis nak?" tanya wanita paruh baya itu. Allena tersadar dengan cepat menghapus air matanya dan tersenyum. "Kamu baik-baik saja nak?" tanya wanita paruh baya itu. "Ya Ibu. Aku baik-baik saja," balas Allena Maura Mahardian. "Tapi tadi Ibu melihatmu menangis," ujar wanita paruh baya itu.
102.5K viewsOngoingAdded to Library 80 Times as traté
Read
+Library
U

U

pria itu adalah teman satu sekolahnya dulu. "Hey! Itu bukannya teman satu sekolah denganmu dulu Ren?" Dia yang bernama lengkap Reno Hadi Rudyatmo hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan dari temannya. "Dia bukannya seorang gay, ya?" Teman baru yang mendengar pembicaraan kedua orang itu, ikut bertanya. "Gay? Maksudnya dia penyuka sesama jenis?" "Iya, benar 'kan Ren? Pria ini 'kan, yang kamu ceritakan waktu itu?"
103.4K viewsOngoingAdded to Library 90 Times as traté
Read
+Library
Terjerat Aturan!

Terjerat Aturan!

kataku disambut suara ponsel kami yang kembali berbunyi. Ting! Sebuah pesan masuk. Aku dan Mas Adam sama-sama membukanya. Setelah membacanya, kedua mata kami kembali melotot setelah tahu isi pesan di dalamnya. From: Hakim Mediator “Ingat, ciumannya jangan cuma di pipi. Kalau melanggar dapat denda besar.”
105.8K viewsOngoingAdded to Library 226 Times as traté
Read
+Library
TITISAN

TITISAN

jawab Asep penuh hormat. “Ya sudah, kalian selawatan dulu saja, sambil menunggu yang lain,” lanjut pria yang rambutnya telah beruban itu. “Baik, Bah,” jawab Asep dan Faisal kompak. Lantunan selawat Badar menggema dari sebuah Toa—speaker corong— yang berada di atas kubah langgar. Alunan penuh rasa damai di waktu senja itu semakin menambah kesyahduan suasana desa.
102.7K viewsOngoingAdded to Library 64 Times as traté
Read
+Library
MATI RASA

MATI RASA

] Ucap Farhan marah dan terlihat raut wajahnya begitu jengkel. [Aku minta maaf sayang, aku kemarin lagi sibuk buat persiapan kontrak kerja sama aku! Kamu jangan berfikiran yang aneh-aneh. Aku enggak akan mungkin main serong di belakang kamu, karena aku udah berkomitmen sama kamu! Tolong dong kamu jangan gini! Aku tu sakit tau kamu giniin!]
107.2K viewsOngoingAdded to Library 202 Times as traté
Read
+Library
Hati yang Tersakiti

Hati yang Tersakiti

“Yuk, Ta. Perutku udah keroncongan nih.” “Sebentar, Ray. Aku mau touch up dulu.” Prita mengeluarkan peralatan make-up dari tasnya. Dia memoles bibirnya berkali-kali dan membubuhkan bedak di wajahnya. “Tadi kita bener-bener apes.” Ray menyandarkan punggungnya ke jok mobil. “Kita telat meeting setengah jam dan Papa ada di sana. Sial.” “Memangnya Papamu nggak bilang apa bakal dateng ke meeting tadi?”
1038.5K viewsCompletedAdded to Library 1.2K Times as traté
Read
+Library
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status