Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Nisan Retak

Nisan Retak

"Apa yang bapak maksud?" “Terlalu banyak yang hilang, Nak. Keluargamu mungkin tidak sebersih yang kalian bayangkan. Dan batu nisan itu...” pria tua itu menunjuk dengan jarinya ke arah nisan retak, “itu adalah tanda dari sebuah janji yang tak terpenuhi. Sesuatu yang lebih besar daripada yang kalian tahu.” Amira merasa tubuhnya kaku, seolah baru saja diterjang badai. “Janji yang tak terpenuhi? Apa yang Bapak maksud?”
1.0K viewsOngoingAdded to Library 27 Times as santet janur ireng
Read
+Library
Salju Turun, Kita Tak Menua

Salju Turun, Kita Tak Menua

Itu jelas Selly. Kenan memelukku dari belakang. Tubuhnya yang tegap dan telanjang masih sekuat dulu. Dengan hati-hati ia berkata, “Aku sudah menato mawar berduri milikmu di tubuhku. Kamu sudah bisa tenang, kan?” Ia menangkup wajahku dengan penuh perasaan. Tapi aku hanya merasa mual. “Jennie, berjanjilah padaku, jangan pernah lagi menyebut kata cerai.”
2.1K viewsCompletedAdded to Library 48 Times as santet janur ireng
Read
+Library
SANG PETARUNG

SANG PETARUNG

“Inilah sang penantang baru di kelas berat, berasal dari Holystan, dengan tinggi badan seratus sembilan puluh satu sentimeter dan berat badan sembilan puluh lima kilogram, seorang petarung yang akan membuat kejutan di HolyMMA. Sambutlah, Aliyev!” Tepuk tangan meriah menggema sampai ke sudut-sudut ruangan. Aliyev berjalan dan berlari ke sana kem mari mengelilingi oktagon, memanaskan badannya, dan meningkatkan gairah bertarungnya. Jepret kamera tak henti saat Aliyev meninju-ninju udara dan melompat-lompat melakukan peregangan otot. Tidak ada ketegangan dan khawatir, tetapi yang ada hanyalah semangat tinggi dan kemauan keras ingin jadi pemenang.
793 viewsOngoingAdded to Library 22 Times as santet janur ireng
Read
+Library
PENGANTIN RAJA SAETAN

PENGANTIN RAJA SAETAN

Senyum manis di wajah itu menipu siapa pun yang melihat. “Yang Mulia,” bisik Nadita dengan suara menggoda. “Hari ini adalah hari bahagia kita. Bukankah kamu merasakannya?” Raja Saetan menoleh sekilas. Senyumnya hambar. “Kebahagiaan sejati tidak lahir dari kebohongan.” Ratu Nadita hanya terkekeh, menahan rasa puas karena mengira ia sudah menang. Pendeta Jien membuka kitab suci, suaranya bergema. “Hari ini kita menyatukan Raja Saetan dan Fang Jianheeng, di hadapan langit dan bumi...”
104.8K viewsCompletedAdded to Library 143 Times as santet janur ireng
Read
+Library
JENTERA SAKTI DAN MUSTIKA UDARATI

JENTERA SAKTI DAN MUSTIKA UDARATI

Sriti dengan sisa kesadarannya mengangguk. Jentra memeluk Sriti erat. Tidak ada hasrat yang timbul pada Jentra karena ia sadar benar, Udarati adalah gunung yang suci. Tidak dibenarkan seseorang menginginkan hasrat yang bukan-bukan di Gunung itu. Namun siapapun yang melihat keadaan Jentra dan Sriti akan tetap salah paham. Begitupun dengan Candrakanti. Saat pagi, Sriti yang telah mulai membaik kondisinya begitu bahagia mendapatkan pelukan dari Jentra sehingga ia melingkarkan tangannya ke leher Jentra dan menggesekan dadanya yang penuh ke dada Jentra.
103.2K viewsCompletedAdded to Library 66 Times as santet janur ireng
Read
+Library
KUNYIT DARI SARANJANA

KUNYIT DARI SARANJANA

“Kamu tenang saja. Aku sudah mengirim dua orang mata-mata untuk menjaga Enon.” Jawo memberikan dua mandau pusaka sakti, kepada Kecek dan Lawen. Dan mengajarinya ilmu beladiri kuntau khas Saranjana, ilmu ini sangat sakti tidak sembarangan orang bisa menguasainya. Konon jika sudah mengusai ilmu kuntau dari Saranjana, bisa mengusai seluruh alam semesta, hanya dengan ilmu kuntau bisa mengalahkan kesaktian Manaf. Sebelum memulai latihan, Lawen dan kecek harus melakukan ritual dulu, mandi di pantai Oka-oka dan berjemur di atas gunung Halau-halau selama satu hari.
101.7K viewsOngoingAdded to Library 65 Times as santet janur ireng
Read
+Library
Di Antara Dua Senja

Di Antara Dua Senja

Batinya. Matahari telah menampakkan pesonanya. Embun membasahi bumi. Ayam jantan saling bersahutan berkokok. Menyambut pagi ini dengan penuh keceriaan. Perjalanan kali ini terlihat senggang. Mungkin, karena masih pagi. Fikir Raka. Mengemudikan mobilnya menuju bandara Soekarno-Hatta.
102.5K viewsOngoingAdded to Library 93 Times as santet janur ireng
Read
+Library
SENYAWA

SENYAWA

jawab seorang wanita dari dalam rumah. “Umma.” Meera meraih tangan ibunya kemudian mencium punggung tangannya. “Umma, kenalkan ini atasan Meera di kantor. Namanya Varo,” ucap Meera lembut memperkenalkan Varo. “Assalamu’alaikum, Nak.” Ibu Naina -Umma Nameera- kemudian menangkup kedua tangannya di depan wajahnya.
1.9K viewsOngoingAdded to Library 43 Times as santet janur ireng
Read
+Library
Renjana

Renjana

kata Irine menghancurkan impian indahku. “Apaan sih Rin, kamu gak salah kenapa harus minta maaf? Terus kamu panggil aku apa? Mbah?” tanyaku heran dengan kata-kata Irine yang mendadak memanggilku mbah, bukankah kita seumuran? “please, jangan rasukin Jana, kasian dia mbah tanpa dirasukin aja dia sudah gila, jangan mbah tambah lagi,” kata Irine dengan nada memohon.
103.1K viewsOngoingAdded to Library 62 Times as santet janur ireng
Read
+Library
SANTET KIRIMAN MADU

SANTET KIRIMAN MADU

Dengan kengerian dan rasa masih terkejut kuremas benda yang ada di genggaman tangan dengan perasaan sedih, heran, ingin tahu dan murka. "Siapa gerangan yang telah tega meletakkan teluh jahat berupa santet untuk penghuni rumah ini?" Jiwaku bersenandika. Siapa yang telah berani meletakkan benda keji bermuatan iblis di dalam pot bunga, betapa nekat dan beraninya dia melakukan itu.
102.2K viewsCompletedAdded to Library 75 Times as santet janur ireng
Read
+Library
PREV
1234567

Frequently Asked Questions

Saya ingat saat mendengar tentang janur ireng, ada sosok yang langsung terbayang di benak saya, yaitu Raden Ajeng Kartini. Ia adalah seorang pejuang perempuan di Indonesia yang tidak hanya memperjuangkan pendidikan untuk kaum perempuan, tetapi juga memperhatikan budaya dan tradisi masyarakat. Dalam konteks janur ireng, yang melambangkan harapan dan kesucian dalam pernikahan Jawa, Kartini mungkin akan melihatnya sebagai simbol yang mencerminkan perubahan dan kemajuan. Membayangkan bagaimana Kartini akan menginterpretasikan janur ireng di jaman modern membuat saya bersemangat, karena beliau pasti akan menekankan pentingnya keseimbangan antara mempertahankan tradisi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Lebih dari itu, dalam cerita-cerita rakyat Jawa, kita juga tidak bisa melewatkan sosok semacam Ki Hajar Dewantara. Dia dikenal karena gagasannya yang menghormati nilai-nilai lokal. Dalam pandangannya, janur ireng bukan hanya bagian dari budaya, tetapi juga lambang dari pendidikan dan pengetahuan. Dia mungkin percaya bahwa warna janur itu dapat menjadi pengingat bahwa setiap individu, seperti padi yang tumbuh, memiliki hak untuk tumbuh dalam pengetahuan dan kebudayaan. Saya sangat menikmati bagaimana tokoh seperti beliau membawa setiap elemen tradisi ke dalam konteks yang lebih luas, sehingga tidak hanya dipandang sebagai simbol masa lalu, tetapi sebagai bagian pelajaran yang harus dipahami dan diaplikasikan di masa kini.

Intinya, baik Kartini maupun Ki Hajar Dewantara, masing-masing menyuguhkan pandangan yang kuat tentang bagaimana tradisi, seperti janur ireng, seharusnya dihargai dan diperkuat dalam menghadapi modernitas yang terus berkembang. Kita jadi melihat tradisi itu bukan hanya sekedar warisan, tetapi juga cara untuk membentuk masa depan.

SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status